
Mabestv.Newsz.id, Sumatra Selatan, 17 Juni 2026 – Pengamat sosial Budi Rizkiyanto menyoroti kondisi ruang publik yang belakangan dinilai lebih sibuk memperdebatkan cara penyampaian kritik dibanding substansi kritikan itu sendiri. Menurutnya, hal ini berbahaya bagi fungsi kontrol sosial di tengah krisis yang melanda masyarakat.
“Saya melihat belakangan publik lebih gaduh ngomongin cara orang kritik dibanding isi kritikan sendiri. Ini bahaya dalam kontrol sosial,” ujar Budi Rizkiyanto.
Soal etika penyampaian, ia mengakui adab itu penting. Negara yang beradab harus menjaga etika. Namun ia menegaskan, adab jangan sampai dipakai untuk membungkam kritik yang “kurang ajar”.
“Kadang lahir karena pintu dialog resmi sudah tertutup. Kalau semua kritik harus lembut, yang nyampe ke pengambil kebijakan cuma laporan asal bapak senang,” katanya.
Yang lebih penting, lanjut Budi, jangan sampai energi bangsa terjebak pada debat cara menyampaikan kritik sampai lupa apa yang dikritik.
“Persoalan pokoknya hari ini apa? Bubarkan MBG, BBM langka, SPBU antre dari subuh sampai malam, PLN lebih menguras pengisian tokennya dari biasanya, dan menurut informasi harga sembako naik, daya beli rakyat turun,” tegasnya.
Ia mengingatkan, jika energi bangsa habis untuk ribut soal cara penyampaian kritik, sementara program MBG membuat kekacauan, korupsi terjadi dari pusat sampai daerah, dan antre BBM tidak kunjung selesai, berarti masyarakat sedang kena pengalihan isu.
Sebagai penggiat kontrol sosial, Budi menegaskan kritik pedas boleh disampaikan asal tujuannya untuk membenahi kebijakan. Pemerintah juga wajib menjawab isi kritikannya, bukan hanya menyalahkan gayanya.
“Jangan sampai kita sibuk mengoreksi mikrofon tapi lupa gedungnya kebakaran. Fokus kita harus ke sana: beresin MBG, BBM, jaga harga pangan, pastikan ruang kritik aman. Itu baru namanya negara melayani rakyat,” pungkasnya.(Budi R/Imm)







