
Mabestv.Newsz.id, SURABAYA – Menjelang pembentukan Masyarakat Ekonomi Kreatif (Ekraf) Jawa Timur, semangat kebangkitan sektor ekonomi kreatif di Jawa Timur semakin terasa. Organisasi yang akan segera dideklarasikan tersebut digadang-gadang menjadi “Rumah Besar” bagi seluruh pelaku usaha ekonomi kreatif di Provinsi Jawa Timur.
Perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Timur terhadap sektor ekonomi kreatif dinilai semakin nyata.
Di bawah kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa, Jawa Timur menjadi salah satu provinsi yang memberikan ruang lebih luas bagi pengembangan ekonomi kreatif melalui penambahan nomenklatur Ekonomi Kreatif pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur.
Kebijakan tersebut disambut positif oleh para pelaku usaha kreatif karena dinilai sebagai bentuk keberpihakan pemerintah terhadap sektor yang memiliki kontribusi besar dalam pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, serta pengembangan potensi daerah.
Geliat ekonomi kreatif di Jawa Timur juga semakin terlihat dalam berbagai sektor. Salah satunya ketika Kota Surabaya dipercaya menjadi lokasi syuting film bergenre horor berjudul Zona Merah yang dibintangi artis papan atas Indonesia, yaitu Luna Maya dan Lukman Sardi.
Terpilihnya Surabaya sebagai lokasi produksi film nasional menunjukkan bahwa Kota Pahlawan memiliki daya tarik tersendiri bagi industri kreatif. Berbagai lokasi ikonik dan fasilitas pendukung menjadi modal penting untuk menarik investasi serta produksi kreatif berskala nasional maupun internasional.
Selain itu, kiprah sutradara ternama Bambang Driasmono yang telah menghasilkan puluhan film layar lebar hingga proyek internasional di Malaysia turut menjadi inspirasi bagi tumbuh dan berkembangnya industri kreatif di Jawa Timur.
Penggagas Masyarakat Ekonomi Kreatif Jawa Timur, Heru Satryo atau yang dikenal sebagai Heru MAKI, menegaskan bahwa sudah saatnya Jawa Timur memiliki satu wadah besar yang mampu menghimpun seluruh pelaku usaha ekonomi kreatif dalam berbagai subsektor.
Menurutnya, ekonomi kreatif merupakan sektor yang memiliki dampak luas terhadap penyerapan tenaga kerja. Dalam industri wedding organizer misalnya, terdapat banyak profesi yang terlibat mulai dari fotografer, dekorator, koki, perias, musisi, petugas kebersihan hingga tenaga pelayanan acara.
Hal yang sama juga terjadi pada industri perfilman yang melibatkan banyak tenaga profesional dari berbagai bidang, mulai penulis naskah, kru produksi, editor, penata artistik hingga pekerja pendukung lainnya.
Karena itu, Masyarakat Ekonomi Kreatif Jawa Timur nantinya tidak hanya menjadi wadah silaturahmi dan kolaborasi, tetapi juga sebagai sarana pendampingan, advokasi, perlindungan hukum, serta penguatan kapasitas para pelaku usaha ekonomi kreatif..
“Rumah Besar Masyarakat Ekonomi Kreatif Jawa Timur akan menjadi wadah pemersatu seluruh pelaku ekonomi kreatif untuk bersama-sama membangun ekosistem yang kuat, mandiri, dan berdaya saing,” ujar Heru.
Ia menambahkan, penambahan nomenklatur ekonomi kreatif pada perangkat daerah merupakan momentum penting bagi kebangkitan sektor ekonomi kreatif di Jawa Timur.
“Niat baik yang lahir dari kepedulian terhadap minimnya perlindungan bagi pelaku usaha ekonomi kreatif untuk kemudian bersatu dalam Rumah Besar Masyarakat Ekonomi Kreatif Jawa Timur, Insya Allah akan mendapat dukungan luas dari masyarakat dan mampu berkontribusi nyata dalam pembangunan Provinsi Jawa Timur,” tegasnya.
Rencananya, Masyarakat Ekonomi Kreatif Jawa Timur akan segera diluncurkan secara resmi dan diharapkan menjadi mitra strategis pemerintah dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.(Imam/edy)






