
Oleh: Dr. Iswadi, M.Pd
Dosen Magister Pendidikan Dasar Universitas Esa Unggul Jakarta
Di zaman ketika informasi begitu mudah diperoleh, menjadi pintar seolah bukan lagi sesuatu yang sulit. Dengan satu sentuhan pada layar, seseorang dapat menemukan berbagai pengetahuan yang dahulu membutuhkan waktu berhari hari untuk dicari. Buku buku tersedia dalam bentuk digital, berbagai kursus dapat diikuti dari rumah, dan hampir semua pertanyaan dapat dicari jawabannya melalui internet. Dunia memberi kita kesempatan yang sangat luas untuk belajar.
Namun, di tengah kemudahan itu, ada sebuah pertanyaan yang sering terlupakan: untuk apa ilmu yang kita miliki?
Sebab, memiliki banyak pengetahuan tidak selalu membuat seseorang menjadi manusia yang lebih baik. Seseorang dapat memiliki gelar yang tinggi, membaca banyak buku, menguasai berbagai bidang ilmu, bahkan memiliki kemampuan luar biasa, tetapi belum tentu mampu menghargai orang lain. Ia bisa sangat pandai berargumentasi, tetapi tidak mampu mendengarkan. Ia dapat mengetahui banyak hal, tetapi tidak memahami bagaimana menjaga perasaan sesama. Ia mungkin unggul secara akademik, tetapi gagal menunjukkan kerendahan hati.
Di sinilah kita memahami bahwa pintar saja tidak cukup. Ilmu membutuhkan adab. Pengetahuan membutuhkan kebijaksanaan. Kecerdasan membutuhkan kerendahan hati.
Ilmu pada dasarnya adalah sesuatu yang mulia. Dengan ilmu, manusia dapat memahami kehidupan, menemukan solusi atas berbagai persoalan, mengembangkan teknologi, membangun peradaban, dan memberikan manfaat kepada sesama. Ilmu memungkinkan seseorang melihat dunia dengan lebih luas. Ia membantu manusia membedakan antara fakta dan prasangka, antara kebenaran dan kekeliruan, antara tindakan yang membawa manfaat dan tindakan yang menimbulkan kerugian.
Tetapi ilmu adalah alat. Ke mana alat itu digunakan sangat bergantung pada orang yang menggunakannya.
Pisau dapat digunakan untuk memasak dan memberikan manfaat, tetapi dapat pula digunakan untuk melukai. Teknologi dapat digunakan untuk memudahkan kehidupan, tetapi juga dapat disalahgunakan. Demikian pula ilmu. Ia dapat menjadi jalan menuju kemaslahatan, tetapi tanpa adab, ilmu juga dapat digunakan untuk kesombongan, manipulasi, bahkan merugikan orang lain.
Karena itu, persoalan utama bukan sekadar seberapa banyak ilmu yang kita miliki, melainkan seberapa baik ilmu tersebut membentuk diri kita.
Orang yang benar benar berilmu semestinya semakin menyadari bahwa dirinya masih memiliki banyak keterbatasan. Semakin luas pengetahuan seseorang, semakin terbuka kesadarannya bahwa dunia ini jauh lebih luas daripada apa yang ia ketahui. Ia tidak mudah merasa paling benar. Ia tidak tergesa gesa merendahkan orang lain hanya karena berbeda pandangan. Ia mampu berkata, Saya belum tahu, ketika memang belum mengetahui sesuatu.
Kerendahan hati seperti itulah salah satu tanda bahwa ilmu telah menemukan tempat yang tepat di dalam diri seseorang.
Sebaliknya, ilmu yang tidak disertai adab dapat melahirkan kesombongan intelektual. Seseorang merasa bahwa karena dirinya lebih berpendidikan, maka pendapatnya selalu benar. Karena memiliki gelar lebih tinggi, ia merasa berhak meremehkan orang yang pendidikannya lebih rendah. Karena menguasai teknologi, ia menganggap dirinya lebih maju daripada mereka yang tidak menguasainya.
Padahal, pendidikan seharusnya tidak membuat seseorang semakin jauh dari manusia lain. Pendidikan justru seharusnya membuat seseorang semakin mampu menghargai manusia.
Kita sering menyaksikan bagaimana perdebatan di ruang publik berubah menjadi pertengkaran. Media sosial menjadi tempat orang saling menyerang hanya karena perbedaan pendapat. Orang yang berbeda pilihan dianggap bodoh. Mereka yang memiliki pandangan berbeda dicaci dan dihina. Bahkan, terkadang orang menggunakan pengetahuan yang dimilikinya bukan untuk menjelaskan, tetapi untuk mempermalukan.
Di sinilah adab menjadi sangat penting.
Adab mengajarkan bahwa berbeda pendapat tidak harus bermusuhan. Adab mengajarkan bahwa kebenaran dapat disampaikan tanpa merendahkan. Adab mengajarkan bahwa orang lain tetap memiliki martabat meskipun pendapatnya berbeda dengan kita.
Kita boleh memiliki argumen yang kuat, tetapi cara menyampaikannya tetap harus dijaga. Kita boleh mengoreksi kesalahan orang lain, tetapi koreksi tidak harus berubah menjadi penghinaan. Kita boleh tidak setuju, tetapi ketidaksetujuan tidak memberi kita hak untuk merendahkan.
Sebab, kecerdasan tanpa adab terkadang hanya membuat seseorang menjadi lebih pandai dalam memenangkan perdebatan, bukan lebih bijaksana dalam menyelesaikan persoalan.
Adab juga bukan sekadar sopan santun dalam berbicara. Adab memiliki makna yang jauh lebih luas. Ia menyangkut cara seseorang memperlakukan orang tua, guru, pasangan, teman, bawahan, atasan, bahkan orang yang tidak dikenalnya. Adab terlihat dari cara seseorang menggunakan kekuasaan, memperlakukan mereka yang lebih lemah, mengakui kesalahan, menjaga janji, menghargai waktu, dan bertanggung jawab atas tindakannya.
Seseorang mungkin tidak memiliki kesempatan memperoleh pendidikan tinggi, tetapi memiliki kejujuran, kesabaran, ketulusan, dan kepedulian yang luar biasa. Sebaliknya, seseorang yang memiliki banyak gelar belum tentu memiliki semua kualitas tersebut.
Karena itu, ukuran keberhasilan manusia tidak semata mata dapat dilihat dari ijazah yang tergantung di dinding atau jabatan yang tertulis di kartu nama. Ada ukuran lain yang jauh lebih penting: apakah kehadirannya memberikan manfaat bagi orang lain?
Ilmu yang baik seharusnya melahirkan manfaat.
Seorang dokter bukan hanya dituntut menguasai ilmu kedokteran, tetapi juga memiliki empati terhadap pasien. Seorang guru bukan hanya harus menguasai materi pelajaran, tetapi juga harus mampu menghargai dan memahami murid. Seorang pemimpin bukan hanya harus cerdas menyusun strategi, tetapi juga harus memiliki integritas dan rasa keadilan. Seorang pengusaha bukan hanya dituntut memahami cara mendapatkan keuntungan, tetapi juga harus mempertimbangkan dampak usahanya terhadap pekerja, masyarakat, dan lingkungan.
Dengan demikian, ilmu tidak berhenti pada kepala. Ia harus turun menjadi sikap dan tindakan.
Kita dapat mengatakan bahwa seseorang benar benar memahami pentingnya kejujuran ketika ia memilih jujur meskipun berbohong akan memberinya keuntungan. Kita dapat mengatakan seseorang memahami arti tanggung jawab ketika ia berani mengakui kesalahan dan memperbaikinya. Kita dapat mengatakan seseorang memahami arti kemanusiaan ketika ia mampu membantu orang lain tanpa terlebih dahulu bertanya apa keuntungan yang akan ia dapatkan.
Ilmu yang hanya disimpan sebagai pengetahuan mungkin membuat seseorang terlihat pintar. Namun, ilmu yang diwujudkan dalam perilaku akan membuat seseorang memiliki nilai.
Karena itu, pendidikan semestinya tidak hanya mengejar prestasi akademik. Anak anak tidak cukup hanya diajarkan bagaimana mendapatkan nilai tinggi. Mereka juga perlu diajarkan bagaimana menghormati orang lain, bekerja sama, meminta maaf, mengakui kesalahan, berbagi, menjaga lingkungan, dan bertanggung jawab atas pilihan mereka.
Orang tua dan guru memiliki peran penting dalam hal ini. Anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan kepadanya, tetapi juga dari apa yang dilihatnya. Jika kita ingin anak menghormati orang lain, maka mereka harus melihat orang dewasa menghormati orang lain. Jika kita ingin mereka jujur, mereka harus melihat kejujuran dipraktikkan. Jika kita ingin mereka rendah hati, kita harus memberikan contoh bahwa keberhasilan tidak menjadi alasan untuk merendahkan sesama.
Adab tidak dapat tumbuh hanya melalui nasihat. Ia tumbuh melalui keteladanan.
Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan.##








