Bukan dari kota besar, bukan pula dari keluarga yang hidup dalam kemewahan. Dari sebuah kampung di Pidie, Aceh, seorang anak daerah menapaki perjalanan panjang hingga akhirnya berdiri di dunia akademik. Ia adalah Dr. Iswadi, M.Pd., putra Laweueng yang memilih ilmu pengetahuan sebagai jalan hidup dan pendidikan sebagai ruang pengabdian.
Setiap orang memiliki cara sendiri dalam memaknai keberhasilan. Ada yang mengejarnya melalui bisnis, jabatan, politik, birokrasi, atau profesi lainnya. Namun, bagi Iswadi, keberhasilan tidak harus selalu hadir dalam bentuk kemewahan dan popularitas.
Ia memilih jalan yang mungkin tidak selalu ramai oleh sorotan, tetapi memiliki pengaruh yang panjang: menjadi pendidik, menekuni dunia akademik, menulis, melakukan penelitian, dan berbagi pengetahuan dengan generasi muda.
Pilihan tersebut tidak datang secara tiba tiba. Ada perjalanan panjang yang membentuk cara pandangnya terhadap ilmu, pendidikan, dan kehidupan.
Iswadi lahir di Desa Mesjid Laweueng, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie, Aceh, pada 1 November 1979. Ia merupakan anak kelima dari sembilan bersaudara, putra Ibu Hamidah.
Laweueng menjadi tempat pertama ia mengenal kehidupan. Di kampung itulah ia tumbuh, bersekolah, mengenal lingkungan sosial, dan mulai membangun cita cita.
Bagi Iswadi, Laweueng bukan sekadar tempat kelahiran. Kampung tersebut menjadi titik awal perjalanan yang kemudian membawanya melangkah jauh, meninggalkan batas geografis tanah kelahirannya, tetapi tetap membawa identitas sebagai putra daerah.
Pendidikan dasar hingga menengah ditempuhnya di daerah asal. Ia menyelesaikan pendidikan di SD Negeri Muara Tiga, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Muara Tiga Pendidikan menengah atas diselesaikannya di SMA Negeri Muara Tiga
Selepas SMA, langkah Iswadi mulai bergerak keluar dari kampung halaman.
Ia melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Serambi Mekkah dengan mengambil bidang Pendidikan Biologi dan menyelesaikan pendidikan sarjana
Namun, memperoleh gelar sarjana bukanlah akhir dari perjalanan belajar.
Setahun kemudian, ia memperluas kompetensinya melalui Kursus Perguruan Lepas Ijazah (KPLI) di Institut Perguruan Darul Aman, Malaysia.
Pengalaman tersebut semakin memperkuat kedekatannya dengan dunia pendidikan. Ia kemudian melanjutkan studi Magister Administrasi Pendidikan di Universitas Syiah Kuala dan berhasil menyelesaikannya pada 2009.
Rasa ingin tahu yang terus terpelihara membawanya kembali melangkah. Kali ini, ia memilih Universitas Negeri Jakarta untuk menempuh pendidikan doktoral pada Program Studi Manajemen Pendidikan.
Tahun 2020 menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan akademiknya. Setelah melewati proses panjang, ia berhasil menyelesaikan pendidikan doktor.
Dari sebuah kampung di Laweueng, langkahnya telah sampai pada jenjang akademik tertinggi. Tetapi gelar doktor bukanlah garis akhir. Justru di sanalah tanggung jawab intelektualnya semakin besar: bagaimana ilmu yang diperoleh dapat memberi manfaat kepada orang lain.
Dari Guru hingga Menjadi Dosen
Sebelum dikenal sebagai akademisi, Iswadi lebih dahulu merasakan kehidupan sebagai seorang guru.
Pada periode 2004–2008, ia mengajar di sejumlah lembaga pendidikan, antara lain Pesantren Oemar Dian Indrapuri, SMA Negeri 5 Banda Aceh, SMA Negeri 4 Banda Aceh, SMA Negeri 10 Fajar Harapan, MAS Ruhul Islam Anak Bangsa, dan SMA Lab School Unsyiah.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan dirinya sebagai pendidik.
Berhadapan langsung dengan siswa membuatnya melihat bahwa proses belajar tidak berhenti pada penyampaian materi. Di dalam ruang kelas, seorang pendidik berhadapan dengan manusia manusia muda yang sedang membangun karakter, menemukan kepercayaan diri, dan menentukan arah masa depan.
Pengalaman sebagai guru kemudian menjadi bekal ketika Iswadi memilih perguruan tinggi sebagai ruang pengabdian berikutnya.
Menjadi dosen baginya bukan sekadar pekerjaan. Di balik profesi tersebut terdapat tanggung jawab untuk membangun cara berpikir mahasiswa, menumbuhkan keberanian menyampaikan gagasan, serta mendorong mereka agar mampu melihat persoalan secara kritis.
Kini, Iswadi menjalani perannya sebagai Dosen pada Program Magister Pendidikan Dasar Universitas Esa Unggul Jakarta.
Posisi tersebut mempertemukannya dengan mahasiswa yang tidak hanya sedang memperdalam keilmuan, tetapi juga dipersiapkan untuk mengambil peran dalam dunia pendidikan. Di ruang akademik inilah pengalaman panjang Iswadi sebagai guru, mahasiswa, peneliti, dan akademisi bertemu.
Bagi seorang dosen, ruang kelas bukan sekadar tempat berlangsungnya perkuliahan. Ia adalah ruang dialog, ruang pertukaran gagasan, dan ruang untuk menyiapkan manusia yang kelak akan berhadapan dengan persoalan masyarakat yang semakin kompleks.
Seorang dosen bukan hanya pengajar. Ia juga pembimbing, peneliti, pembelajar sepanjang hayat, sekaligus bagian dari proses pembentukan generasi masa depan.
Di lingkungan akademik, Iswadi mengembangkan kiprah di bidang administrasi dan manajemen pendidikan. Ia juga mengampu berbagai bidang pembelajaran
Keragaman bidang tersebut memperlihatkan luasnya ruang intelektual yang ia tekuni.
Menulis agar Gagasan Tidak Berhenti di Ruang Kelas
Bagi Iswadi, menjadi akademisi juga berarti terus belajar.
Mengajar saja tidak cukup. Pengetahuan harus terus dikembangkan, dipertanyakan, diuji, dan dituliskan agar dapat menjangkau lebih banyak orang.
Karena itu, selain mengajar, ia juga aktif menulis dan menghasilkan berbagai karya akademik. Sejumlah karya yang dikaitkan dengannya mencakup teori belajar, metodologi penelitian, profesi kependidikan, pengelolaan pendidikan, hingga komunikasi digital.
Namun, salah satu karya yang menjadi bagian penting dari gagasan pendidikannya adalah buku Gagasan Pendidikan: Membangun Peradaban Berintegritas.
Buku tersebut tidak hanya berbicara tentang pendidikan dalam pengertian sempit. Di dalamnya terdapat refleksi tentang manusia, karakter, integritas, keluarga, sekolah, masyarakat, negara, dan masa depan peradaban.
Gagasan yang ditawarkan berangkat dari keyakinan bahwa pendidikan pada hakikatnya bukan hanya tentang pengetahuan yang disampaikan, nilai yang diperoleh, atau ijazah yang diberikan.
Pendidikan, dalam pandangan tersebut, adalah tentang manusia.
Tentang bagaimana seseorang belajar mengenal dirinya, memahami kehidupan, menghargai sesama, membangun integritas, dan menemukan makna dari setiap proses yang dijalaninya.
Pandangan tersebut membawa pendidikan keluar dari sekadar persoalan administratif.
Pendidikan tidak cukup hanya diukur melalui angka, nilai, atau kelulusan. Lebih jauh, pendidikan harus mampu membentuk manusia yang memiliki kecerdasan sekaligus karakter.
Sebab ilmu tanpa integritas dapat kehilangan arah. Kecerdasan tanpa tanggung jawab dapat kehilangan makna. Dan kemajuan tanpa kemanusiaan dapat kehilangan tujuan.
Di situlah pendidikan menemukan hakikatnya: memanusiakan manusia.
Pendidikan adalah Tanggung Jawab Bersama
Salah satu gagasan penting dalam buku tersebut adalah bahwa pendidikan tidak dapat dibebankan kepada sekolah semata.
Keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara memiliki peran yang saling berkaitan dalam membangun ekosistem pendidikan yang sehat, berintegritas, berkeadilan, dan berorientasi pada kemanusiaan.
Keluarga merupakan tempat pertama nilai nilai kehidupan ditanamkan. Sekolah menjadi ruang untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, karakter, dan potensi peserta didik. Masyarakat menjadi tempat nilai nilai tersebut diuji dan diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Sementara negara memiliki tanggung jawab memastikan pendidikan menjadi hak seluruh warga dan dikelola melalui kebijakan yang berpihak pada masa depan generasi bangsa.
Cara pandang tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan bukan sekadar program jangka pendek.
Pendidikan merupakan proses panjang membangun manusia sekaligus membangun peradaban.
Karena itu, pendidikan membutuhkan keteladanan, konsistensi, kesungguhan, dan keberlanjutan.
Apa yang ditanamkan hari ini mungkin belum terlihat hasilnya dalam waktu dekat. Namun, pendidikan bekerja melampaui waktu.
Keteladanan seorang guru, kasih sayang orang tua, kebijakan yang adil, serta lingkungan yang baik dapat menjadi bekal yang menentukan perjalanan seseorang bertahun tahun kemudian.
Setiap tindakan dalam pendidikan, pada akhirnya, adalah investasi peradaban.
Akademisi yang Tidak Berjarak dengan Persoalan Masyarakat
Kiprah Iswadi juga tidak berhenti di lingkungan kampus.
Pada 2023, ia pernah tampil sebagai pembicara dalam kegiatan International Lecture yang diselenggarakan ASEAN Lecturer Community. Dalam forum tersebut, ia membahas persoalan pemilu dan tren isu politik di Indonesia menjelang Pemilu 2024.
Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa seorang akademisi dapat mengambil bagian dalam membaca persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.
Kampus tidak seharusnya menjadi menara gading yang berjarak dari realitas. Ilmu pengetahuan justru harus mampu membaca perubahan sosial, memahami persoalan bangsa, dan menghadirkan perspektif yang membantu masyarakat melihat persoalan secara lebih jernih.
Di situlah ilmu menemukan maknanya.
Ilmu tidak hanya disimpan di perpustakaan atau dibicarakan dalam ruang seminar. Ilmu harus hadir dalam kehidupan.
Laweueng sebagai Titik Awal, Bukan Batas
Perjalanan hidup Dr. Iswadi menyimpan pesan sederhana tetapi kuat bagi generasi muda di daerah.
Tempat seseorang dilahirkan tidak menentukan seberapa jauh ia dapat melangkah.
Laweueng adalah titik awal perjalanan Iswadi, bukan batas bagi cita citanya.
Dari Pidie, ia melanjutkan pendidikan hingga Malaysia dan Jakarta. Dari seorang siswa di sekolah daerah, ia kemudian menjadi guru, melanjutkan studi hingga meraih gelar doktor, dan kini menjalani pengabdian sebagai dosen di Program Magister Pendidikan Dasar Universitas Esa Unggul Jakarta.
Perjalanan itu menunjukkan bahwa keberhasilan tidak selalu harus diukur dari seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan untuk diri sendiri.
Ada bentuk keberhasilan yang lebih sunyi, tetapi meninggalkan dampak jauh lebih panjang: ketika ilmu yang dimiliki dibagikan kepada orang lain.
Ketika seorang mahasiswa yang pernah duduk di ruang kelas kemudian mampu berdiri dengan percaya diri menghadapi dunia, di situlah seorang dosen sesungguhnya meninggalkan jejak.
Mungkin, di sanalah makna terdalam dari pilihan Iswadi menjadi dosen.
Memilih Ilmu sebagai Jalan Pengabdian
Dr. Iswadi memilih jalan yang mungkin tidak selalu menghadirkan gemerlap popularitas.
Hari harinya diisi dengan aktivitas yang tampak sederhana: membaca, mengajar, menulis, berdiskusi, meneliti, dan berinteraksi dengan generasi muda.
Namun, pekerjaan seorang pendidik memang sering kali tidak menghasilkan sesuatu yang dapat dilihat dalam waktu singkat.
Ada gagasan yang baru dipahami mahasiswa bertahun tahun kemudian. Ada nasihat yang baru terasa manfaatnya setelah seseorang meninggalkan bangku kuliah. Ada pula ilmu yang terus hidup karena diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Karena itu, kisah Iswadi bukan sekadar cerita tentang seorang anak daerah yang berhasil meraih gelar doktor.
Ini adalah cerita tentang sebuah pilihan hidup.
Pilihan untuk tetap berada di dunia pendidikan ketika begitu banyak jalan lain terbuka.
Pilihan untuk menjadikan ilmu bukan hanya sebagai sarana mencapai keberhasilan pribadi, tetapi juga sebagai cara untuk memberi manfaat.
Dan pilihan untuk percaya bahwa pendidikan memiliki kekuatan mengubah manusia sekaligus membangun peradaban.
Warisan yang Ingin Ditinggalkan
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar dalam pendidikan bukan hanya seberapa banyak pengetahuan yang telah diberikan.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
Manusia seperti apa yang sedang kita bentuk?
Dan dari pertanyaan itu lahir pertanyaan berikutnya:
Peradaban seperti apa yang ingin kita wariskan?
Pertanyaan tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah atau perguruan tinggi. Ia menjadi tanggung jawab kita bersama.
Kita mungkin tidak mampu mengubah seluruh dunia melalui pendidikan. Tetapi kita dapat mengubah satu kehidupan.
Dari satu kehidupan yang berubah, lahir keluarga yang lebih baik. Dari keluarga yang lebih baik, tumbuh masyarakat yang lebih beradab. Dari masyarakat yang beradab, terbentuk bangsa yang lebih bermartabat.
Perubahan besar tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Ia bisa bermula dari keteladanan sederhana, sebuah kejujuran yang dipertahankan, nasihat yang diberikan dengan kasih sayang, atau seorang guru yang tetap percaya bahwa setiap anak memiliki potensi untuk tumbuh menjadi manusia yang lebih baik.
Itulah sebabnya tidak ada kebaikan dalam pendidikan yang benar benar sia sia.
Dan di sanalah perjalanan Dr. Iswadi menemukan maknanya.
Dari Laweueng, ia membawa sebuah perjalanan panjang. Dari ruang kelas, ia melanjutkan pengabdian. Melalui tulisan, ia menyebarkan gagasan. Dan melalui dunia akademik, ia terus berusaha menyiapkan manusia yang bukan hanya berilmu, tetapi juga memiliki integritas.
Laweueng adalah tempat ia bermula. Pendidikan menjadi jalan yang dipilihnya. Dunia akademik menjadi ruangnya berkarya. Dan ilmu menjadi cara baginya untuk mengabdi.
Sebab pada akhirnya, seorang pendidik tidak hanya dikenang dari gelar yang melekat di belakang namanya.
Ia dikenang dari seberapa banyak manusia yang pernah disentuh ilmunya, seberapa banyak pemikiran yang pernah dibukanya, dan seberapa jauh jejak pengabdiannya terus berjalan setelah ia meninggalkan ruang kelas.
Warisan terbaik bukanlah harta, jabatan, ataupun kemasyhuran. Warisan terbaik adalah manusia manusia baik yang tumbuh karena pendidikan yang diperjuangkan.
Dan selama masih ada guru yang bersedia mendidik dengan ketulusan, dosen yang terus menyalakan pemikiran, orang tua yang menanamkan nilai, serta generasi muda yang bersedia belajar, harapan bagi masa depan Indonesia tidak akan pernah padam.
Pendidikan akan selalu menjadi cahaya.
Dan dari cahaya itulah, peradaban menemukan jalannya.##

