
Mabestvnews, Jakarta : Pengunduran diri Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) memunculkan perhatian luas dari publik dan berbagai kalangan. Momentum tersebut dinilai tidak semata mata sebagai pergantian figur di pucuk pimpinan, tetapi harus dijadikan titik awal untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola kelembagaan dan efektivitas pelaksanaan program-program strategis di bidang gizi nasional.
Pengamat kebijakan publik Dr. Iswadi, M.Pd. menegaskan bahwa dalam sistem pemerintahan yang baik, pergantian pejabat merupakan bagian dari dinamika organisasi. Namun yang lebih penting adalah memastikan proses transisi berlangsung profesional, terukur, dan tidak mengganggu keberlanjutan berbagai program yang telah berjalan.
Setiap pergantian kepemimpinan harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh. Jangan hanya berfokus pada pergantian orang, tetapi pastikan sistem, tata kelola, koordinasi, dan kualitas pelayanan publik menjadi semakin baik. Pengunduran diri Kepala BGN harus menjadi alarm evaluasi nasional, ujar Dr. Iswadi.
Menurutnya, Badan Gizi Nasional memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia Indonesia melalui berbagai program peningkatan kualitas gizi masyarakat. Karena itu, keberhasilan lembaga tersebut tidak hanya bergantung pada sosok pemimpin, tetapi juga pada kekuatan institusi, profesionalisme aparatur, serta sinergi lintas sektor.
Dr. Iswadi menilai pemerintah perlu memanfaatkan momentum ini untuk melakukan pembenahan secara komprehensif, mulai dari efektivitas birokrasi, mekanisme pengambilan keputusan, sistem pengawasan, tata kelola anggaran, hingga penguatan kapasitas sumber daya manusia.
Evaluasi yang objektif akan menghasilkan rekomendasi yang konstruktif. Tujuannya bukan mencari siapa yang salah, melainkan memastikan bahwa lembaga semakin kuat, adaptif, transparan, dan mampu menjawab berbagai tantangan pembangunan nasional, katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Iswadi juga menilai pemerintah perlu mempertimbangkan figur yang memiliki pengalaman, kapasitas, dan pemahaman mendalam mengenai program gizi nasional untuk memimpin BGN ke depan.
Menurutnya, Notrida Mandica merupakan salah satu sosok yang layak dipertimbangkan sebagai pengganti Naniek S. Djajang. Selain dikenal sebagai penulis buku mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Notrida juga menjabat sebagai Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Partai Golkar, sehingga dinilai memiliki pengalaman dalam pengembangan kebijakan, riset, serta pemahaman terhadap implementasi program strategis pemerintah.
Figur yang akan memimpin BGN ke depan harus memiliki kapasitas manajerial, kemampuan membangun kolaborasi lintas sektor, serta pemahaman yang kuat terhadap kebijakan pembangunan gizi nasional. Saya melihat Notrida Mandica memiliki rekam jejak yang patut dipertimbangkan untuk mengemban amanah tersebut,ujar Dr. Iswadi.
Ia menambahkan bahwa tantangan sektor gizi masih sangat besar, mulai dari percepatan penurunan stunting, pemerataan akses layanan gizi, peningkatan kualitas konsumsi masyarakat, hingga penguatan edukasi gizi. Karena itu, kepemimpinan yang visioner dan organisasi yang solid menjadi kebutuhan utama agar kesinambungan program tidak terganggu.
Masyarakat tentu berharap seluruh program pemerintah tetap berjalan sesuai rencana. Kepentingan publik harus menjadi prioritas utama. Pergantian kepemimpinan tidak boleh menghambat pelayanan maupun pelaksanaan program yang manfaatnya langsung dirasakan masyarakat, katanya.
Selain penguatan internal, Dr. Iswadi juga menekankan pentingnya komunikasi publik yang terbuka selama masa transisi kepemimpinan. Menurutnya, transparansi informasi menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga negara.
Kepercayaan publik adalah modal yang sangat berharga. Oleh karena itu, pemerintah dan BGN perlu menyampaikan perkembangan proses transisi secara terbuka, proporsional, dan akuntabel agar masyarakat memperoleh kepastian mengenai keberlanjutan berbagai program yang sedang dijalankan,jelasnya.
Dr. Iswadi juga mengajak seluruh jajaran Badan Gizi Nasional tetap menjaga profesionalisme serta fokus menjalankan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Ia menilai keberhasilan sebuah institusi tidak hanya ditentukan oleh pemimpinnya, tetapi juga oleh dedikasi seluruh aparatur dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Di akhir keterangannya, Dr. Iswadi berharap pemerintah menjadikan pengunduran diri Kepala BGN sebagai momentum memperkuat reformasi birokrasi, sekaligus memilih pemimpin yang memiliki kapasitas, integritas, dan visi yang mampu mempercepat pencapaian target pembangunan gizi nasional.
Setiap perubahan harus melahirkan perbaikan. Jangan berhenti pada pergantian pemimpin, tetapi jadikan momentum ini sebagai alarm evaluasi nasional agar seluruh kebijakan semakin berpihak kepada kepentingan masyarakat dan mampu mempercepat terwujudnya Indonesia yang sehat, unggul, dan berdaya saing. Sosok yang memahami substansi program, memiliki pengalaman dalam pengembangan kebijakan, serta mampu membangun kolaborasi nasional, seperti Notrida Mandica, layak dipertimbangkan untuk memimpin Badan Gizi Nasional ke depan,tutup Dr. Iswadi.##






