Di tengah hiruk-pikuk kota Jakarta, tersembunyi sebuah bangunan bersejarah yang menyimpan cerita panjang dari masa kolonial. Bunker Belanda yang berada di sekitar Markas Besar (Mabes) Polri tidak hanya menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Indonesia, tetapi juga mengandung makna budaya yang dalam. Meski usianya hampir satu abad, bunker ini masih kokoh berdiri dan menunjukkan kekuatan arsitektur serta teknologi waktu itu.
Bunker tersebut terletak di halaman belakang Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat. Bangunan museum ini sendiri dibangun pada 1931 oleh Nederlands Levenzekerring Maatschappij (kini PT Asuransi Jiwasraya). Awalnya, rumah ini disewakan untuk Konsulat Inggris, lalu dihuni oleh Laksamana Muda Tadashi Maeda selama masa pendudukan Jepang. Setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia II, bangunan ini digunakan sebagai markas militer Inggris, kemudian menjadi rumah dinas Duta Besar Inggris pada periode 1960–1980. Akhirnya, setelah masa sewanya berakhir, bangunan ini dikembalikan ke pemerintah Indonesia dan dijadikan museum karena lokasinya menjadi tempat penting dalam perumusan naskah proklamasi.
Bunker ini difungsikan sebagai tempat persembunyian darurat saat masa perang. “Siapa pun yang tinggal di rumah itu bisa masuk ke dalam bunker bila menghadapi bahaya, ancaman, atau kerusuhan,” jelas Edukator Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Paskasius Fajar.
Ukuran bunker tidak terlalu besar. Bagian dalamnya memiliki lebar sekitar dua meter, panjang lima meter, dan tinggi sekitar 160–165 cm. Ruangan ini mampu menampung delapan hingga sepuluh orang sekaligus. Untuk masuk, pengunjung harus menuruni tangga besi yang telah dipasang. Sebelumnya tersedia tangga beton asli, namun kondisinya curam dan berbahaya.
Saat berada di dalam, suasana terasa gelap, lembap, dan kosong. Langit-langit bunker berbentuk segitiga dengan ventilasi udara di bagian atas. Menariknya, meskipun Jakarta sering diguyur hujan deras dan banjir, bunker tersebut tetap kering. “Ventilasi maupun pintu masuknya selalu terbuka, tapi tidak pernah ada banjif. Paling hanya lembap saja karena serapan airnya bagus,” jelas Fajar.
Di bagian ujung bunker, terdapat sebuah lubang besar menyerupai pintu terowongan. Sayangnya, akses itu kini sudah tertutup sehingga tidak bisa dijelajahi lagi. Belum diketahui secara pasti ke mana terowongan tersebut bermuara. “Kalau soal terowongan, memang sudah ditutup sejak lama. Ada dugaan jalur itu digunakan untuk melarikan diri, kemungkinan besar menuju area terbuka. Tapi kepastian jalurnya masih belum diketahui,” tambah Fajar.
Bunker ini bukanlah satu-satunya peninggalan Belanda di sekitar Mabes Polri. Di Garut, Jawa Barat, Kantor Polsek Cibatu juga menyimpan jejak sejarah sejak peradaban Hindia Belanda. Bangunan tua yang masuk cagar budaya itu sudah berdiri sejak tahun 1902. Gaya bangunan kantor Polsek Cibatu yang bertempat di jalan raya Cibatu nomor 2 Desa Cibatu Kecamatan Cibatu Kabupaten Garut tidak berubah. Jarak langit-langit menuju lantai sangat tinggi, yaitu mencapai 6 meter. Nuansa atap yang tinggi ini membuat ruangan sejuk meski tanpa dipasang AC atau kipas angin.
Kapolsek Cibatu, Iptu Amirudin Latif mengatakan bahwa bangunan ini merupakan cagar budaya, sehingga dilarang diubah dan hanya diperbolehkan mendapat perawatan ringan. “Mayoritas bangunan masih orisinil buatan Belanda, seperti daun pintu, jendela, lantai. Kalau memang sangat betul-betul rusak maka kita boleh perbaiki atau dirombak tanpa mengubah gaya bangunan ini,” tambahnya.
Meski bangunan sudah berusia ratusan tahun, kantor tua ini masih berdiri kokoh. Beberapa kali Garut diguncang gempa, bangunan ini tetap utuh tanpa mengalami retak sedikitpun di dinding. Namun, tahun depan kabarnya kantor polsek Cibatu akan pindah ke bangunan baru yang dibuat oleh Polri di jalan raya Kresek.
Bunker Belanda di sekitar Mabes Polri tidak hanya menjadi saksi bisu sejarah, tetapi juga mengandung nilai-nilai budaya yang perlu dilestarikan. Dengan penjagaan yang baik, peninggalan ini dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi muda tentang perjuangan dan keberlanjutan sejarah bangsa.
