Mabestvnews, Jakarta : Fenomena meningkatnya kepercayaan publik terhadap Tiyo Ardianto dan Fatimah Az-Zahra dinilai bukan sekadar gejala popularitas sesaat yang dipengaruhi media sosial. Di balik besarnya perhatian masyarakat terhadap kedua figur tersebut, tersimpan pesan yang lebih mendalam tentang kondisi pendidikan nasional yang dinilai belum sepenuhnya mampu menjawab tantangan zaman.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Pengamat Pendidikan Dr. Iswadi, M.Pd, yang menilai bahwa fenomena ini harus dibaca sebagai momentum evaluasi terhadap arah pembangunan pendidikan di Indonesia. Menurutnya, ketika masyarakat semakin mempercayai figur figur di luar institusi pendidikan formal sebagai sumber inspirasi, pengetahuan, maupun rujukan dalam menyikapi berbagai persoalan kehidupan, maka ada sesuatu yang perlu dibenahi secara serius dalam sistem pendidikan nasional.
Fenomena ini tidak bisa dipahami hanya sebagai keberhasilan personal dua figur tersebut. Ini adalah refleksi bahwa masyarakat sedang mencari sosok yang dianggap mampu memberikan jawaban atas kebutuhan mereka, baik dalam bentuk gagasan, keteladanan, maupun cara berkomunikasi yang lebih dekat dengan realitas kehidupan, ujar Dr. Iswadi dalam keterangannya kepada media, Sabtu (27/6/2026).
Menurutnya, selama bertahun tahun sistem pendidikan Indonesia cenderung menitikberatkan keberhasilan pada aspek akademik, seperti nilai ujian, kelulusan, dan pencapaian administratif. Sementara itu, kemampuan membangun karakter, kepemimpinan, komunikasi publik, literasi digital, kreativitas, hingga kemampuan menghadapi perubahan sosial belum menjadi perhatian yang seimbang.
Akibatnya, kata dia, banyak lulusan yang memiliki kompetensi akademik yang baik, tetapi belum memiliki kemampuan adaptif dalam menghadapi dinamika masyarakat yang berubah sangat cepat akibat perkembangan teknologi informasi.
Dr. Iswadi menjelaskan bahwa era digital telah mengubah cara masyarakat membangun kepercayaan. Jika pada masa lalu otoritas seseorang banyak ditentukan oleh jabatan, gelar akademik, atau posisi formal, maka kini masyarakat lebih menghargai individu yang dinilai mampu menghadirkan solusi nyata, berbicara dengan bahasa yang mudah dipahami, serta menunjukkan konsistensi antara ucapan dan tindakan.
Kepercayaan publik hari ini dibangun melalui integritas, kedekatan dengan masyarakat, kemampuan menyampaikan gagasan secara sederhana, serta rekam jejak yang dianggap relevan dengan persoalan yang dihadapi masyarakat. Ini merupakan perubahan besar yang harus dipahami oleh dunia pendidikan, katanya.
Ia menambahkan bahwa perkembangan teknologi digital juga telah mengubah pola belajar masyarakat. Informasi kini dapat diperoleh dari berbagai sumber di luar sekolah maupun perguruan tinggi. Karena itu, lembaga pendidikan tidak lagi dapat mengandalkan pola pembelajaran konvensional yang hanya menempatkan guru sebagai satu satunya sumber pengetahuan.
Menurut Dr. Iswadi, sekolah dan perguruan tinggi harus bertransformasi menjadi ruang yang mendorong peserta didik untuk berpikir kritis, berdiskusi, melakukan riset, memecahkan masalah, serta menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Pendidikan masa depan bukan lagi sekadar mengajarkan apa yang harus diketahui, tetapi bagaimana seseorang mampu belajar sepanjang hayat, beradaptasi dengan perubahan, dan memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat, ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas guru sebagai ujung tombak pendidikan nasional. Menurutnya, guru tidak cukup hanya menguasai materi pembelajaran, tetapi juga harus mampu menjadi mentor, fasilitator, dan inspirator yang membimbing peserta didik menghadapi tantangan abad ke-21.
Selain peningkatan kompetensi, guru juga perlu memperoleh ruang yang lebih luas untuk berinovasi dalam proses pembelajaran. Beban administrasi yang selama ini dinilai terlalu besar, kata dia, sering kali mengurangi kesempatan guru untuk mengembangkan metode pembelajaran yang kreatif dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Tidak hanya pendidikan dasar dan menengah, Dr. Iswadi juga menilai perguruan tinggi perlu memperkuat perannya sebagai pusat inovasi dan penghasil solusi atas berbagai persoalan bangsa. Kampus, menurutnya, tidak boleh berhenti sebagai tempat memperoleh gelar akademik, tetapi harus mampu menghadirkan penelitian yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, industri, serta masyarakat sipil menjadi salah satu kunci untuk mempercepat transformasi pendidikan Indonesia.
Lebih jauh, Dr. Iswadi mengatakan bahwa fenomena meningkatnya kepercayaan publik terhadap figur-figur tertentu seharusnya menjadi bahan introspeksi, bukan untuk dipertentangkan. Menurutnya, dunia pendidikan justru perlu belajar mengapa masyarakat memberikan tingkat kepercayaan yang tinggi kepada individu individu tersebut.
Ada pelajaran penting yang bisa diambil, yaitu masyarakat menghargai sosok yang mampu menghadirkan empati, komunikasi yang efektif, solusi konkret, dan konsistensi dalam bertindak. Nilai nilai inilah yang seharusnya juga menjadi bagian dari proses pendidikan kita, katanya.
Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa derasnya arus informasi digital juga menghadirkan tantangan baru berupa penyebaran informasi yang belum tentu benar. Oleh karena itu, pendidikan harus semakin memperkuat literasi digital, literasi media, serta kemampuan berpikir kritis agar masyarakat mampu menilai informasi secara objektif.
Kepercayaan publik harus dibangun di atas kemampuan berpikir kritis. Pendidikan harus melahirkan masyarakat yang tidak hanya mudah percaya kepada seseorang, tetapi juga memiliki kemampuan untuk memverifikasi informasi, memahami berbagai perspektif, dan mengambil keputusan berdasarkan fakta, jelasnya.
Dr. Iswadi menilai reformasi pendidikan tidak dapat dilakukan secara parsial ataupun hanya melalui perubahan kurikulum semata. Transformasi harus mencakup peningkatan kualitas tenaga pendidik, pembaruan metode pembelajaran, penguatan karakter peserta didik, pemanfaatan teknologi secara bijaksana, hingga pembangunan budaya belajar yang lebih terbuka dan kolaboratif.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak lagi cukup diukur dari jumlah lulusan atau tingginya nilai akademik, tetapi juga dari kemampuan melahirkan generasi yang dipercaya masyarakat karena memiliki integritas, kompetensi, kepedulian sosial, serta kemampuan memimpin perubahan.
Ia berharap seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, guru, dosen, orang tua, dunia usaha, hingga masyarakat luas, dapat menjadikan fenomena ini sebagai momentum untuk mempercepat transformasi pendidikan nasional.
Jika kita mampu mengambil pelajaran dari fenomena ini, maka pendidikan Indonesia akan semakin relevan dengan kebutuhan zaman. Sekolah dan kampus harus kembali menjadi tempat lahirnya pemimpin, ilmuwan, inovator, dan tokoh masyarakat yang dipercaya publik karena kualitas, integritas, dan kontribusinya bagi bangsa, tutup Dr. Iswadi.##