Mabestv.Newsz.id, Malang, Dau — Pukul 21.00 WIB Senin (23/3/2026), udara di halaman Mako Polsek Dau agak sejuk setelah gerimis sore. Di bawah papan nama Polsek, AKP Hari Eko Utomo, S.AP.,M.H. (Plt. Kapolsek Dau) mengecek rompi dan HT sebelum memimpin apel. Barisan kecil terbentuk: 4 anggota Dau dengan rompi khas Sabhara, 2 personel Lawang yang membawa daftar titik rawan balap liar, 2 personel Singosari yang menggenggam senter besar untuk cek bagasi, dan 2 personel Karangploso yang fokus ke data 3C. Total 11 personel; komando tunggal, bahasa operasi sama: pencegahan, percakapan, dan pulang tepat waktu.
Segmen pertama dimainkan tim motor. Di simpang Tiga Jembatan, deru brong memecah keheningan. Lima motor dicegat bergantian; salah satunya berpelat luar kota dan pengendaranya masih belasan tahun. Petugas mencontohkan decibel dengan kalimat, “Kalau adik bayi di RT sana bangun, kita yang disalahin.” Identitas, nomor rangka, dan nomor ponsel orang tua dicatat manual di buku saku. Janji mengganti knalpot terdengar lirih, tapi cukup bagi petugas untuk mengangguk dan melepas mereka dengan imbauan rute aman.
Di jalur lingkar Dau, mobil patroli membuka bagasi dua kendaraan travel. Pemeriksaan cepat: tidak ada senjata, tidak ada botol miras, hanya kardus kue Lebaran. Sopir mengakui sering diminta ngebut oleh penumpang; petugas memintanya melapor bila ada paksaan. Di komplek perumahan Griya Permata, motor patroli jalan pelan. Remaja di teras warung menulis nomor WA Bhabinkamtibmas; bapak ronda menunjuk jalan pintas yang kerap dipakai pemuda kebut-kebutan —catatan baru untuk patroli berikutnya.
Pukul 22.28 WIB, kedua tim bertemu di depan pasar yang sudah tutup. Data digabungkan, tidak ditemukan handak, narkoba, sajam, atau miras; warga melambat, lalu kembali melaju setelah petugas memberi acungan ibu jari. Konsolidasi pukul 22.30 WIB di Mako ditutup dengan simpulan: aman, kondusif, terkendali. Bagi AKP Hari, keberhasilan bukan di jumlah tilang, melainkan di berkurangnya keluhan warga ke call center semalaman. Selama puncak Lebaran, pola gabungan Rayon Lawang ini akan kembali digelar —kehadiran yang tampak, suara yang didengar, dan malam yang dikembalikan ke keluarga.(u-hmssekdau/Imam)