Mabestvnews, Jakarta : Pendidikan di Indonesia kembali mendapat gagasan baru dari kalangan akademisi. Dr. Iswadi, seorang pemerhati pendidikan, secara resmi mengusulkan penerapan kurikulum hybrid berbasis portofolio sebagai alternatif penguatan sistem pendidikan nasional di Indonesia. Usulan ini disampaikan sebagai respons terhadap tantangan pendidikan yang dinilai masih terlalu berorientasi pada ujian dan kurang menekankan pengembangan kompetensi nyata siswa.
Dalam pernyataannya, Dr. Iswadi menegaskan bahwa sistem pendidikan saat ini perlu melakukan transformasi mendasar agar lebih relevan dengan kebutuhan abad ke-21. Menurutnya, model pembelajaran yang hanya menitikberatkan pada nilai ujian tidak lagi cukup untuk menyiapkan generasi muda menghadapi dunia kerja, perkembangan teknologi, dan tantangan sosial yang semakin kompleks.
Kita membutuhkan sistem yang tidak hanya mengukur kemampuan siswa dari angka ujian, tetapi juga dari proses, karya, dan perkembangan nyata mereka. Karena itu, kurikulum hybrid berbasis portofolio adalah solusi yang lebih adaptif dan manusiawi, ujar Dr. Iswadi kepada para awak media
Konsep Kurikulum Hybrid
Kurikulum hybrid berbasis portofolio yang ditawarkan menggabungkan tiga elemen utama, yaitu penilaian portofolio, penilaian kompetensi, dan evaluasi terstruktur. Model ini dirancang untuk menciptakan keseimbangan antara aspek akademik, keterampilan praktis, dan pembentukan karakter siswa.
Dalam skema yang diusulkan, portofolio siswa menjadi komponen utama penilaian dengan bobot sekitar 40–50 persen. Portofolio tersebut mencakup hasil proyek, karya kreatif, laporan penelitian sederhana, hingga refleksi pembelajaran siswa. Komponen ini bertujuan untuk merekam perkembangan kemampuan siswa secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Selain itu, sekitar 30–40 persen penilaian berasal dari evaluasi kompetensi yang dilakukan melalui observasi guru, diskusi kelas, presentasi, serta tugas berbasis praktik. Sementara itu, ujian terstruktur hanya berkontribusi sekitar 10–20 persen dan difungsikan sebagai alat verifikasi pemahaman dasar siswa.
Fokus pada Pembelajaran Bermakna
Dr. Iswadi menekankan bahwa inti dari kurikulum ini bukan sekadar perubahan format penilaian, melainkan perubahan paradigma pendidikan. Siswa diharapkan tidak lagi belajar untuk sekadar lulus ujian, tetapi untuk menghasilkan karya dan memahami konsep secara mendalam.
Anak anak harus terbiasa menyelesaikan masalah nyata, bekerja dalam tim, dan menghasilkan sesuatu yang bisa dinilai secara konkret. Itulah esensi pembelajaran bermakna, jelasnya.
Ia mencontohkan penerapan di mata pelajaran sains yang tidak hanya menguji teori, tetapi juga mengharuskan siswa membuat proyek seperti alat sederhana pengolahan air atau eksperimen lingkungan. Dalam pelajaran sosial, siswa dapat melakukan penelitian kecil mengenai masalah di sekitar mereka, seperti pengelolaan sampah atau kondisi sosial masyarakat.
Manfaat untuk Sistem Pendidikan Nasional
Menurut Dr. Iswadi, kurikulum hybrid berbasis portofolio memiliki sejumlah keunggulan strategis bagi Indonesia. Pertama, sistem ini dinilai lebih adil karena tidak hanya mengutamakan siswa yang kuat dalam ujian tertulis, tetapi juga mereka yang memiliki kemampuan kreatif, praktis, dan kolaboratif.
Kedua, model ini lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja modern yang menuntut keterampilan problem solving, komunikasi, dan inovasi. Ketiga, kurikulum ini dapat mengurangi budaya belajar berbasis hafalan yang selama ini masih dominan di banyak sekolah.
Selain itu, pendekatan ini juga mendorong penguatan karakter siswa melalui refleksi diri, tanggung jawab, serta kemampuan bekerja sama dalam proyek kelompok.
Tantangan Implementasi
Meski menawarkan banyak keunggulan, Dr. Iswadi mengakui bahwa implementasi kurikulum ini tidak lepas dari tantangan. Salah satu tantangan terbesar adalah kesiapan guru dalam melakukan penilaian berbasis portofolio yang membutuhkan waktu, ketelitian, serta pemahaman rubrik evaluasi yang jelas.
Selain itu, kesenjangan fasilitas antar sekolah di berbagai daerah di Indonesia juga menjadi perhatian. Oleh karena itu, ia menekankan perlunya sistem yang fleksibel, di mana sekolah dapat menggunakan portofolio digital maupun manual sesuai kondisi masing masing.
Reformasi ini tidak bisa instan. Kita perlu pelatihan guru, standar penilaian yang jelas, serta dukungan infrastruktur yang memadai, tambahnya.
Dr. Iswadi berharap gagasan kurikulum hybrid berbasis portofolio ini dapat menjadi bahan diskusi nasional dalam pengembangan sistem pendidikan Indonesia ke depan. Ia menegaskan bahwa tujuan utama dari usulan ini adalah menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kreatif, adaptif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Kita sedang berbicara tentang masa depan anak anak Indonesia. Maka sistem pendidikan kita harus berani berubah, tutupnya.##