
Mabestv.news, Jakarta : Wacana penataan dan kemungkinan penutupan sejumlah program studi (prodi) yang dinilai tidak lagi relevan dengan kebutuhan zaman menuai beragam tanggapan dari berbagai kalangan. Akademisi dan pemerhati pendidikan, Dr. Iswadi, menilai bahwa langkah tersebut perlu dikaji secara komprehensif agar tidak menimbulkan dampak negatif yang lebih luas bagi ekosistem pendidikan tinggi di Indonesia.
Dalam keterangannya, Dr. Iswadi menegaskan bahwa isu relevansi program studi tidak dapat disederhanakan hanya pada parameter jumlah peminat atau tingkat serapan lulusan di dunia kerja dalam jangka pendek. Ia menyebutkan bahwa pendidikan tinggi memiliki fungsi strategis yang jauh lebih luas, termasuk dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pelestarian nilai-nilai keilmuan, serta kontribusi terhadap pembangunan nasional.
Setiap program studi memiliki peran dan kontribusi masing-masing. Penilaian terhadap relevansi harus dilakukan dengan pendekatan berbasis data yang kuat, mempertimbangkan tren global, kebutuhan jangka panjang, serta potensi pengembangan keilmuan di masa depan,ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dinamika perubahan zaman yang begitu cepat, terutama akibat perkembangan teknologi dan transformasi digital, justru menuntut fleksibilitas dalam pengelolaan pendidikan tinggi. Dalam konteks ini, suatu bidang ilmu yang saat ini dianggap kurang diminati bukan berarti tidak memiliki prospek di masa mendatang. Ia mengingatkan bahwa banyak bidang keilmuan yang sebelumnya terpinggirkan justru menjadi sangat penting seiring dengan perubahan kebutuhan industri dan masyarakat.
Menurutnya, langkah penutupan program studi seharusnya menjadi opsi terakhir setelah berbagai upaya perbaikan dilakukan secara optimal. Ia mendorong perguruan tinggi untuk melakukan revitalisasi prodi melalui pembaruan kurikulum yang lebih adaptif, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penguatan kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk dunia usaha dan industri.
Pendekatan yang lebih konstruktif adalah melakukan transformasi, bukan eliminasi. Kampus perlu berinovasi agar program studi yang ada dapat tetap relevan dan mampu menghasilkan lulusan yang kompetitif, jelasnya.
Selain itu, Dr. Iswadi juga menyoroti pentingnya membangun kolaborasi yang lebih erat antara perguruan tinggi dan sektor industri. Menurutnya, sinergi ini dapat menjadi solusi untuk menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan pasar kerja. Dengan adanya kerja sama yang kuat, kurikulum dapat disesuaikan secara lebih tepat, sehingga lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan tuntutan lapangan.
Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa kebijakan penutupan prodi tidak hanya berdampak pada aspek akademik, tetapi juga memiliki implikasi sosial yang signifikan. Mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan, dosen, serta tenaga kependidikan berpotensi mengalami ketidakpastian. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang mengedepankan prinsip keadilan dan keberlanjutan.
Ia menyarankan agar pemerintah dan perguruan tinggi menyiapkan skema transisi yang jelas dan terencana, seperti pengalihan mahasiswa ke program studi lain yang relevan, penyediaan program pelatihan tambahan, serta dukungan bagi tenaga pendidik yang terdampak. Dengan demikian, proses penataan dapat berjalan tanpa menimbulkan gejolak yang merugikan berbagai pihak.
Lebih jauh, Dr. Iswadi menilai bahwa persoalan ketidaksesuaian antara lulusan dan kebutuhan dunia kerja tidak sepenuhnya disebabkan oleh keberadaan program studi tertentu. Ia melihat adanya tantangan yang lebih besar dalam sistem pendidikan tinggi, seperti kurangnya perencanaan strategis, lemahnya pemetaan kebutuhan tenaga kerja, serta terbatasnya inovasi dalam metode pembelajaran.
Oleh karena itu, ia mendorong adanya reformasi yang lebih menyeluruh dalam sistem pendidikan tinggi, termasuk penguatan riset, peningkatan kualitas pengajaran, serta pemanfaatan teknologi secara optimal. Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menyediakan data yang akurat dan terkini sebagai dasar pengambilan kebijakan.
Dalam penutupnya, Dr. Iswadi mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menyikapi isu ini secara bijak dan proporsional. Ia menegaskan bahwa pendidikan tinggi bukan hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja semata, tetapi juga untuk membentuk karakter, meningkatkan kapasitas intelektual, serta mendorong kemajuan peradaban bangsa.
Keputusan terkait program studi harus diambil dengan penuh tanggung jawab dan visi jangka panjang. Kita tidak boleh mengorbankan masa depan pendidikan hanya karena tekanan jangka pendek. Yang dibutuhkan adalah kebijakan yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan, pungkasnya.
*Tentang Dr. Iswadi*
Dr. Iswadi merupakan akademisi dan pemerhati pendidikan yang aktif memberikan gagasan kritis dan konstruktif dalam pengembangan kebijakan pendidikan di Indonesia. Ia dikenal luas sebagai sosok yang konsisten mendorong peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan tinggi di tengah tantangan global yang terus berkembang.##







