
Mabestvnews, Jakarta : Pengamat pendidikan dan sosial, Dr. Iswadi, menyampaikan keprihatinan mendalam atas polemik yang terjadi dalam pelaksanaan Lomba Cerdas Cermat Pilar Kebangsaan yang belakangan menjadi sorotan publik nasional. Menurutnya, peristiwa tersebut bukan sekadar kesalahan teknis dalam perlombaan, melainkan cerminan krisis etika dan cara pandang dalam dunia pendidikan Indonesia yang semakin menjauh dari nilai keadilan, objektivitas, dan penghormatan terhadap kebenaran.
Dr. Iswadi menilai kejadian tersebut sangat memilukan karena berlangsung dalam sebuah kegiatan yang sejatinya bertujuan menanamkan nilai-nilai kebangsaan, demokrasi, dan semangat keadilan kepada generasi muda. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Para peserta yang berusaha mempertahankan argumentasi dan kebenaran dinilai tidak mendapatkan ruang dialog yang sehat dan adil.
Ini adalah peristiwa yang sangat menyedihkan. Pendidikan Indonesia seharusnya menjadi rumah bagi kejujuran intelektual, penghormatan terhadap argumentasi, dan keberanian mencari kebenaran. Tetapi dalam peristiwa ini, kita justru menyaksikan bagaimana otoritas lebih dominan dibanding substansi, ujar Dr. Iswadi dalam keterangannya kepada media, Rabu (13/5).
Menurutnya, insiden tersebut telah melukai rasa keadilan publik, terutama di kalangan pelajar dan tenaga pendidik yang selama ini percaya bahwa dunia pendidikan merupakan tempat paling mulia dalam membangun karakter bangsa. Ketika siswa yang menyampaikan jawaban benar justru dipersoalkan secara administratif atau teknis tanpa ruang klarifikasi yang proporsional, maka pendidikan sedang kehilangan ruhnya.
Dr. Iswadi mengatakan bahwa pendidikan tidak boleh hanya menekankan hafalan dan kepatuhan mutlak terhadap otoritas, melainkan harus melatih keberanian berpikir kritis, kemampuan berdialog, serta penghormatan terhadap fakta dan kebenaran. Ia menegaskan bahwa demokrasi yang sehat lahir dari keberanian untuk mengoreksi kesalahan, termasuk kesalahan yang dilakukan oleh penyelenggara maupun pihak yang memiliki kewenangan.
Kita sedang menyaksikan ironi besar. Lomba tentang pilar kebangsaan yang seharusnya mengajarkan nilai demokrasi, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia, justru memunculkan kesan adanya sikap otoriter dan anti kritik. Ini tentu sangat memprihatinkan, katanya.
Lebih lanjut, Dr. Iswadi menyebut bahwa peristiwa tersebut telah menimbulkan kekecewaan luas di tengah masyarakat. Banyak publik menilai para siswa sebenarnya telah menunjukkan sikap intelektual yang sehat dengan berani mempertahankan jawaban dan meminta kejelasan atas keputusan yang dianggap tidak konsisten. Sikap seperti itu, menurutnya, justru merupakan cerminan generasi muda yang kritis dan demokratis.
Ia menegaskan bahwa peserta didik tidak boleh dibentuk menjadi generasi yang hanya tunduk tanpa daya pikir. Pendidikan harus melahirkan manusia merdeka yang mampu menyampaikan pendapat secara santun namun tegas ketika menemukan ketidakadilan.
Kalau anak-anak muda yang kritis justru dianggap salah karena mempertanyakan keputusan yang tidak adil, maka kita sedang mengirim pesan buruk bagi masa depan bangsa. Kita seperti sedang mengajarkan bahwa kekuasaan selalu benar meskipun fakta berkata lain. Ini sangat berbahaya bagi perkembangan demokrasi dan moral generasi muda, ujarnya.
Dr. Iswadi juga meminta seluruh pihak terkait untuk menjadikan peristiwa tersebut sebagai momentum evaluasi besar dalam sistem pendidikan nasional. Ia menilai pembelajaran tentang Pancasila dan nilai kebangsaan tidak cukup hanya diajarkan melalui teori dan perlombaan seremonial, tetapi harus diwujudkan dalam praktik yang menjunjung keadilan, keterbukaan, dan penghargaan terhadap perbedaan pandangan.
Menurutnya, dunia pendidikan Indonesia saat ini membutuhkan keteladanan moral yang nyata. Guru, juri, penyelenggara pendidikan, dan institusi negara harus menunjukkan sikap rendah hati untuk mengakui kekeliruan apabila memang terjadi kesalahan. Sebab kepercayaan publik terhadap pendidikan hanya dapat dibangun melalui integritas dan kejujuran.
Pendidikan Indonesia akan menangis jika nilai-nilai keadilan hanya menjadi slogan tanpa praktik nyata. Anak-anak didik kita sedang melihat dan belajar dari perilaku orang dewasa. Ketika mereka menyaksikan ketidakadilan dipertahankan, maka yang rusak bukan hanya perlombaan, tetapi juga kepercayaan mereka terhadap dunia pendidikan, tegasnya.
Ia pun mengapresiasi langkah evaluasi yang mulai dilakukan berbagai pihak pasca polemik tersebut. Namun, menurutnya, permintaan maaf saja tidak cukup apabila tidak diikuti pembenahan sistem penilaian, mekanisme keberatan, dan budaya dialog yang sehat dalam kegiatan pendidikan.
Dr. Iswadi berharap kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh lembaga pendidikan di Indonesia agar lebih mengedepankan substansi dibanding formalitas, serta menjadikan peserta didik sebagai subjek yang dihormati akal sehat dan martabatnya.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau belajar dari kesalahan. Jangan biarkan anak-anak kehilangan kepercayaan terhadap nilai keadilan sejak dini. Pendidikan harus menjadi cahaya peradaban, bukan ruang yang membuat kebenaran justru diperdebatkan secara tidak adil, pungkasnya.##





