
Mabestvnews, Jakarta : Akademisi dan pemerhati pendidikan Dr. Iswadi, M.Pd. terus menggaungkan pentingnya penerapan konsep Pendidikan Membebaskan sebagai fondasi dalam membangun sumber daya manusia Indonesia yang unggul. Menurutnya, pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada pencapaian nilai akademik, tetapi juga harus mampu membentuk manusia yang merdeka dalam berpikir, berani berinovasi, berintegritas, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial.
Di tengah berbagai tantangan pendidikan nasional, mulai dari kesenjangan mutu antarwilayah, perubahan teknologi yang begitu cepat, hingga tuntutan kompetensi global, Dr. Iswadi menilai bahwa paradigma pendidikan harus mengalami transformasi. Sistem pembelajaran perlu bergeser dari pendekatan yang berpusat pada guru menuju pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai subjek utama dalam proses belajar.
Pendidikan harus membebaskan manusia dari kebodohan, ketakutan, dan keterbelakangan. Sekolah bukan sekadar tempat menghafal materi, melainkan ruang untuk melahirkan pemikiran, kreativitas, dan karakter yang akan menjadi bekal peserta didik dalam menghadapi kehidupan, ujar Dr. Iswadi di Jakarta, Kamis (6/8).
Menurutnya, konsep Pendidikan Membebaskan bukan berarti menghilangkan aturan dalam dunia pendidikan, melainkan memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan potensi terbaiknya melalui pembelajaran yang aktif, dialogis, kolaboratif, dan berorientasi pada pemecahan masalah.
Dr. Iswadi menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak dapat diukur semata mata melalui angka angka pada rapor atau hasil ujian. Lebih dari itu, pendidikan harus mampu melahirkan individu yang memiliki kemampuan berpikir kritis, komunikasi yang baik, kreativitas, kemampuan berkolaborasi, serta karakter yang kuat sebagai warga negara.
Bangsa yang maju tidak hanya memiliki masyarakat yang cerdas secara intelektual, tetapi juga masyarakat yang memiliki integritas, empati, tanggung jawab, dan semangat untuk terus belajar sepanjang hayat, katanya.
Selama beberapa tahun terakhir, Dr. Iswadi secara konsisten menyampaikan gagasan tersebut melalui berbagai forum akademik, seminar nasional, kuliah umum, kegiatan pengabdian kepada masyarakat, hingga publikasi ilmiah. Baginya, pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang menentukan arah pembangunan bangsa.
Ia menilai bahwa perubahan besar dalam dunia pendidikan harus dimulai dari peningkatan kualitas guru. Guru tidak lagi cukup berperan sebagai penyampai materi pelajaran, melainkan harus menjadi fasilitator, mentor, sekaligus inspirator yang mampu menumbuhkan rasa ingin tahu peserta didik.
Guru adalah aktor utama perubahan pendidikan. Ketika guru diberi ruang untuk berkembang dan terus meningkatkan kompetensinya, maka kualitas pembelajaran juga akan meningkat secara signifikan, jelasnya.
Karena itu, Dr. Iswadi mendorong pemerintah untuk terus memperkuat program pengembangan kompetensi guru melalui pelatihan yang relevan dengan perkembangan zaman, pemanfaatan teknologi pembelajaran, serta penguatan kapasitas pedagogik dan kepemimpinan pendidikan.
Selain peningkatan kualitas guru, ia juga menekankan pentingnya menciptakan budaya belajar yang menyenangkan. Menurutnya, sekolah harus menjadi ruang yang aman, inklusif, dan menghargai keberagaman sehingga setiap peserta didik dapat berkembang sesuai dengan potensi, bakat, dan minatnya.
Dr. Iswadi juga menyoroti perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang semakin memengaruhi dunia pendidikan. Ia menilai bahwa teknologi harus dimanfaatkan sebagai instrumen untuk memperluas akses pendidikan dan meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan dipandang sebagai ancaman.
Teknologi hanyalah alat. Yang paling penting adalah bagaimana pendidikan tetap mampu membentuk manusia yang memiliki karakter, etika, dan tanggung jawab. Kecanggihan teknologi tidak boleh menggeser nilai nilai kemanusiaan, tegasnya.
Dalam pandangannya, Indonesia membutuhkan sistem pendidikan yang adaptif terhadap perubahan global, namun tetap berpijak pada nilai nilai Pancasila, budaya bangsa, dan semangat gotong royong. Oleh sebab itu, pendidikan karakter harus berjalan beriringan dengan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan abad ke-21.
Lebih lanjut, Dr. Iswadi mengajak seluruh pemangku kepentingan pemerintah, perguruan tinggi, sekolah, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan keluarga untuk membangun kolaborasi dalam memperkuat ekosistem pendidikan nasional. Menurutnya, transformasi pendidikan tidak dapat dilakukan hanya oleh satu pihak, melainkan membutuhkan komitmen bersama.
Ia juga mendorong perguruan tinggi agar semakin aktif menjadi pusat inovasi dan pengembangan kebijakan pendidikan melalui riset riset yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Kampus, katanya, harus menjadi ruang lahirnya gagasan-gagasan baru yang memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan Indonesia.
Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk menghasilkan inovasi dan solusi. Riset yang dilakukan harus mampu memberikan manfaat nyata bagi dunia pendidikan, bukan hanya berhenti sebagai dokumen akademik, ujarnya.
Dr. Iswadi optimistis bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun sistem pendidikan yang berkualitas dan berdaya saing global apabila seluruh elemen bangsa memiliki visi yang sama dalam meningkatkan mutu pendidikan. Ia meyakini bahwa pendidikan yang membebaskan akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
Pendidikan yang membebaskan akan melahirkan manusia yang mampu berpikir kritis, menghargai perbedaan, menciptakan inovasi, serta memiliki kepedulian terhadap sesama. Itulah tujuan hakiki pendidikan yang harus terus kita perjuangkan bersama, katanya.
Menutup keterangannya, Dr. Iswadi menegaskan bahwa perjuangan membangun Pendidikan Membebaskan merupakan bagian dari ikhtiar panjang untuk menyiapkan Indonesia menghadapi tantangan masa depan. Menurutnya, kualitas suatu bangsa akan sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya.
Dengan pendidikan yang memerdekakan cara berpikir, menguatkan karakter, dan membuka ruang bagi kreativitas, Indonesia akan memiliki generasi yang tidak hanya siap bersaing di tingkat global, tetapi juga mampu menjaga nilai nilai kebangsaan serta membangun peradaban yang lebih maju. Pendidikan yang membebaskan bukan sekadar sebuah konsep, melainkan sebuah gerakan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih cerdas, adil, dan bermartabat, tutup Dr. Iswadi.##






