Mabestvnews, Jakarta : Transformasi digital di sektor pendidikan terus menjadi salah satu agenda strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di Indonesia. Berbagai platform pembelajaran, sistem administrasi berbasis digital, hingga pemanfaatan teknologi dalam proses belajar mengajar terus dikembangkan. Namun, di balik berbagai kemajuan tersebut, masih terdapat tantangan besar yang harus segera diatasi, yakni kesenjangan akses teknologi di berbagai wilayah Indonesia.
Pakar pendidikan, Dr. Iswadi, menilai bahwa keberhasilan transformasi pendidikan digital tidak dapat diukur hanya dari semakin banyaknya aplikasi maupun platform pembelajaran yang digunakan oleh sekolah. Menurutnya, keberhasilan sesungguhnya terletak pada kemampuan seluruh peserta didik dan tenaga pendidik untuk memperoleh akses yang setara terhadap teknologi pendidikan.
Digitalisasi pendidikan harus mampu dirasakan manfaatnya oleh seluruh siswa dan guru tanpa terkecuali. Selama masih ada sekolah yang kesulitan memperoleh akses internet atau peserta didik yang belum memiliki perangkat digital, maka tujuan pemerataan pendidikan belum sepenuhnya tercapai, ujar Dr. Iswadi, Rabu (1/7).
Ia menjelaskan bahwa hingga saat ini masih banyak sekolah, khususnya di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), yang menghadapi keterbatasan infrastruktur teknologi. Tidak sedikit guru yang harus mencari lokasi dengan sinyal internet lebih baik hanya untuk mengunduh materi pembelajaran maupun mengirimkan laporan administrasi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi pendidikan masih menghadapi tantangan mendasar.
Menurut Dr. Iswadi, perbedaan kondisi antara sekolah di perkotaan dan daerah terpencil menjadi salah satu faktor yang menyebabkan ketimpangan kualitas pembelajaran. Sekolah di kota umumnya telah memanfaatkan berbagai perangkat digital dalam proses pembelajaran, sementara banyak sekolah di pelosok masih berjuang memperoleh koneksi internet yang stabil.
Ia mengingatkan bahwa kesenjangan tersebut berpotensi memperlebar disparitas mutu pendidikan apabila tidak segera diatasi melalui kebijakan yang lebih komprehensif. Peserta didik yang memiliki akses terhadap teknologi akan memperoleh pengalaman belajar yang lebih luas, sedangkan mereka yang berada di daerah dengan keterbatasan akses akan semakin tertinggal.
Transformasi digital seharusnya menjadi instrumen untuk mengurangi kesenjangan pendidikan, bukan justru memperbesar perbedaan kualitas pembelajaran antardaerah. Pemerataan akses harus menjadi prioritas utama, tegasnya.
Dr. Iswadi menilai pembangunan infrastruktur digital perlu menjadi bagian integral dari kebijakan pendidikan nasional. Ketersediaan jaringan internet yang cepat dan stabil merupakan fondasi utama bagi pelaksanaan pembelajaran berbasis teknologi. Tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, berbagai inovasi digital sulit memberikan dampak yang optimal.
Selain persoalan jaringan internet, ia juga menyoroti masih terbatasnya kepemilikan perangkat digital di kalangan peserta didik. Banyak keluarga yang belum mampu menyediakan telepon pintar, tablet, maupun komputer sebagai sarana belajar anak-anak mereka. Kondisi tersebut membuat akses terhadap pembelajaran digital menjadi tidak merata.
Menurutnya, pemerintah perlu terus memperluas berbagai program bantuan perangkat digital bagi peserta didik dari keluarga kurang mampu agar transformasi digital tidak menjadi beban tambahan bagi masyarakat.
Setiap anak Indonesia berhak memperoleh kesempatan belajar yang sama. Jangan sampai kondisi ekonomi keluarga menjadi penghambat bagi mereka untuk mengakses pendidikan yang berkualitas, katanya.
Lebih lanjut, Dr. Iswadi menegaskan bahwa transformasi digital tidak hanya bergantung pada penyediaan perangkat dan jaringan internet. Faktor yang tidak kalah penting adalah peningkatan kompetensi digital para guru sebagai ujung tombak proses pembelajaran.
Ia menilai pelatihan literasi digital bagi guru harus dilakukan secara berkelanjutan agar mereka tidak hanya mampu mengoperasikan berbagai aplikasi pembelajaran, tetapi juga dapat merancang proses belajar yang kreatif, interaktif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik di era digital.
Guru memiliki peran yang sangat strategis dalam menentukan keberhasilan transformasi pendidikan. Karena itu, penguatan kompetensi digital harus menjadi investasi jangka panjang yang dilakukan secara konsisten, ujarnya.
Menurut Dr. Iswadi, kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi harus diiringi dengan kemampuan memilih metode pembelajaran yang tepat sehingga teknologi benar benar menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan sekadar alat pelengkap.
Ia juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun ekosistem pendidikan digital yang lebih inklusif. Pemerintah pusat dan daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, penyedia layanan telekomunikasi, serta masyarakat dinilai memiliki tanggung jawab bersama dalam mempercepat pemerataan akses teknologi di dunia pendidikan.
Transformasi digital tidak dapat dijalankan oleh pemerintah sendiri. Dibutuhkan sinergi seluruh pihak agar manfaat teknologi dapat dirasakan secara merata oleh seluruh sekolah di Indonesia,jelasnya.
Dr. Iswadi menambahkan bahwa investasi dalam pendidikan digital bukan hanya berkaitan dengan pembangunan jaringan internet atau pengadaan perangkat elektronik. Lebih dari itu, investasi tersebut merupakan langkah strategis dalam mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia agar mampu bersaing di tingkat global pada masa depan.
Ia berharap seluruh kebijakan digitalisasi pendidikan selalu mengedepankan prinsip keadilan, pemerataan, dan inklusivitas sehingga tidak ada peserta didik maupun guru yang tertinggal akibat keterbatasan akses terhadap teknologi.
Keberhasilan transformasi digital bukan ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang dimiliki, tetapi oleh seberapa luas manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh anak bangsa. Pendidikan digital harus menjadi jembatan menuju pemerataan kualitas pendidikan nasional dan membuka kesempatan yang sama bagi setiap peserta didik untuk berkembang,pungkas Dr. Iswadi.##