Mabestv.Newsz.id, PASURUAN – Kematian Faradila Amalia Najwa (21), mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang juga warga Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, yang ditemukan meninggal dunia di sungai sepanjang Jalan Raya Purwosari–Pasuruan, Desa Wonorejo, Kabupaten Pasuruan, mulai sedikit demi sedikit mengungkap rahasianya. Setelah dilakukan pemeriksaan awal, korban diduga menjadi korban pembunuhan, dan terbaru, terduga pelaku telah diamankan oleh kepolisian dengan status tersangka.
Peristiwa dimulai ketika warga Desa Wonorejo menemukan mayat seorang wanita muda yang terjebak di rerumputan di pinggir sungai sekitar pukul 07.00 WIB pada hari Senin (8/12/2025). Warga yang terkejut segera melaporkan ke Polsek Wonorejo, yang kemudian mengirimkan petugas ke lokasi untuk memeriksa. Setelah dilakukan identifikasi awal melalui barang-barang yang ditemukan bersama mayat seperti KTP, telepon genggam, dan tas buku, ternyata mayat tersebut adalah Faradila Amalia Najwa, yang telah dicari oleh keluarga sejak hari Sabtu (6/12/2025) sore karena tidak pulang ke rumah.
“Keluarga korban melaporkan hilangnya Najwa ke Polsek Tiris pada hari Minggu (7/12/2025) pagi. Mereka mengatakan Najwa pergi keluar rumah pada hari Sabtu sore untuk menangani urusan pribadi, tetapi tidak pernah kembali dan teleponnya juga tidak bisa dihubungi,” ungkap Kapolsek Tiris AKP Rian Setiawan ketika dikonfirmasi. Setelah informasi mengenai temuan mayat di Pasuruan diterima, tim dari Polsek Tiris segera berkoordinasi dengan Polsek Wonorejo untuk memverifikasi identitas, yang akhirnya terbukti benar bahwa mayat tersebut adalah Najwa.
Setelah mayat ditemukan, kepolisian langsung melakukan pemindahan ke Rumah Sakit Pusdik Brimob Watukosek, Pasuruan, untuk melakukan otopsi guna menentukan penyebab kematian secara pasti. Selama proses otopsi yang berlangsung selama lebih dari 3 jam pada hari Selasa (9/12/2025), terdapat temuan yang mengkhawatirkan: korban memiliki tanda-tanda cedera fisik pada bagian kepala, leher, dan tubuh yang menunjukkan kemungkinan diserang secara kekerasan. “Hasil sementara otopsi menunjukkan bahwa korban mengalami cedera yang tidak mungkin disebabkan oleh kecelakaan semata. Kami menduga ada elemen pembunuhan di sini, sehingga kasus ini segera dilanjutkan ke penyelidikan lebih lanjut,” jelas Kasat Reskrim Polres Pasuruan AKP Adi Prasetyo.
Yang lebih mencengangkan, selama proses otopsi berlangsung, terduga pelaku yang kemudian diketahui berinisial AS sempat datang ke RS Pusdik Brimob Watukosek. Menurut saksi yang ada di lokasi, pria berusia sekitar 30-an tahun itu datang dengan kondisi terlihat cemas dan mencoba untuk melihat proses otopsi, sebelum akhirnya dilarang oleh petugas yang menjaga. “Saksi melihat pria itu tiba dengan mobil, keluar sebentar, dan seolah-olah ingin mendekati ruang otopsi. Ketika ditanya identitas, dia hanya menyebut nama singkat dan segera pergi ketika mengetahui bahwa polisi sedang memantau ketat,” ungkap salah satu petugas yang tidak mau disebutkan namanya.
Berbekal informasi dari saksi dan hasil awal penyelidikan, Tim Jatanras (Jaringan Terdakwa) Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Timur segera melakukan penelusuran terhadap terduga AS. Setelah melakukan pengawasan selama beberapa hari, tim kepolisian akhirnya melakukan penangkapan terhadap AS pada hari Kamis (11/12/2025) sore di kediamannya di Kecamatan Sidoarjo. Yang mengejutkan, terduga pelaku tersebut merupakan anggota kepolisian yang sedang aktif bertugas di salah satu satuan di Jawa Timur.
“Kami telah melakukan penangkapan terhadap tersangka AS pada hari Kamis sore. Tersangka tersebut merupakan kakak ipar korban, yang diketahui memiliki hubungan dengan korban sebelum kejadian. Saat ini, tersangka sedang dalam penyelidikan intensif di Polda Jawa Timur untuk mengungkap kebenaran seluruh peristiwa,” ujar Kasubdit Reskrim Umum Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Hendra Wijaya. Ia menambahkan bahwa tim kepolisian juga telah menyita beberapa barang bukti dari tempat tinggal tersangka, antara lain mobil yang diduga digunakan saat kejadian, pakaian yang mungkin terkontaminasi bukti, dan peralatan lainnya yang sedang diperiksa di laboratorium forensik.
Keluarga korban, yang sampai saat ini masih dalam kesedihan mendalam, menyampaikan harapan agar kepolisian dapat mengungkap kebenaran sepenuhnya dan memberikan keadilan bagi Najwa. “Najwa adalah anak yang baik, rajin, dan sedang mengejar impiannya sebagai mahasiswi. Kami tidak menyangka hal ini akan terjadi padanya. Kami minta agar pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal,” ungkap Bapak Hadi (52), ayah korban, dalam suara yang terengah-engah ketika ditemui di rumahnya di Probolinggo.
Selain itu, pihak Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Ketua Humas UMM Dr. Siti Nurhaliza mengatakan bahwa kampus akan memberikan dukungan kepada keluarga dan membantu proses hukum yang berjalan. “Kami sangat sedih mendengar berita kematian Najwa, yang merupakan mahasiswi aktif di jurusan Teknik Informatika. Kami akan memberikan dukungan apapun yang dibutuhkan oleh keluarga, termasuk memfasilitasi kebutuhan akademik dan dukungan emosional bagi teman-temannya di kampus,” ujarnya.
Sampai saat ini, penyelidikan terhadap kasus kematian Faradila Amalia Najwa masih berlangsung. Kepolisian sedang mengumpulkan lebih banyak bukti, termasuk panggilan saksi dan hasil pemeriksaan forensik yang diharapkan dapat mengungkap alur kejadian secara rinci dan menentukan motif yang mendasari terjadinya pembunuhan. “Kami akan bekerja dengan seksama untuk mengungkap kebenaran sepenuhnya. Setiap bukti yang ditemukan akan menjadi dasar untuk menuntut keadilan bagi korban,” tegas AKBP Hendra Wijaya.(/imm)