
Mabestvnews, JAKARTA : Perguruan tinggi harus mampu melampaui perannya sebagai lembaga pendidikan formal dan pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Kampus perlu hadir sebagai ruang terbuka bagi masyarakat, tempat berbagai pemikiran dipertemukan, perbedaan dihargai, serta gagasan-gagasan besar untuk kemajuan bangsa dilahirkan. Kampus tidak boleh menjadi menara gading yang terpisah dari realitas kehidupan masyarakat, melainkan harus menjadi tenda bangsa dan rumah besar kaum intelektual.
Demikian pandangan Pendiri Organisasi Pejuang Pendidikan Indonesia yang juga Ketua Umum Solidaritas Pemersatu Bangsa Indonesia (SPBI) Dr. Iswadi, M.Pd yang juga Akademisi dari Magister Pendidikan Dasar Universitas Esa Unggul Jakarta, yang menekankan pentingnya mengembalikan perguruan tinggi pada peran strategisnya dalam membangun peradaban, memperkuat persatuan nasional, dan menjawab berbagai persoalan masyarakat.
Menurut Iswadi, istilah menara gading menggambarkan kondisi ketika dunia akademik terlalu sibuk dengan urusan internal, pencapaian administratif, publikasi ilmiah, dan prestasi institusional, tetapi kurang memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat. Padahal, ilmu pengetahuan seharusnya tidak berhenti di ruang kuliah, perpustakaan, laboratorium, atau jurnal ilmiah. Ilmu harus hadir untuk membantu manusia memahami persoalan, menemukan jalan keluar, dan membangun kehidupan yang lebih baik.
Kampus tidak boleh hanya menjadi tempat orang memperoleh gelar akademik. Kampus harus menjadi ruang tempat ilmu pengetahuan bertemu dengan realitas kehidupan, tempat gagasan diuji secara rasional, dan tempat kaum intelektual ikut memikirkan masa depan bangsa,ujar Iswadi dalam pandangannya mengenai peran strategis perguruan tinggi.
Tenda Bangsa sebagai Simbol Persatuan
Iswadi menjelaskan, gagasan kampus sebagai tenda bangsa mengandung makna filosofis yang mendalam. Tenda merupakan tempat bernaung, berlindung, dan berkumpul. Dalam konteks kehidupan berbangsa, kampus harus menjadi ruang bersama yang dapat menaungi berbagai latar belakang sosial, budaya, pandangan, dan kepentingan melalui dialog yang sehat serta penghormatan terhadap martabat manusia.
Di lingkungan perguruan tinggi, perbedaan pandangan semestinya tidak dipandang sebagai ancaman. Sebaliknya, perbedaan merupakan kekayaan intelektual yang dapat memperluas cakrawala berpikir dan memperkuat tradisi akademik. Kampus harus memberikan ruang bagi perdebatan ilmiah yang sehat, kritik yang konstruktif, dan pertukaran gagasan yang berlandaskan argumentasi serta bukti.
Dalam kehidupan demokratis, perguruan tinggi juga memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga agar ruang diskusi publik tetap rasional, terbuka, dan berorientasi pada kepentingan bersama. Kampus tidak harus menyeragamkan pemikiran setiap orang, tetapi harus membangun budaya berdialog agar perbedaan dapat dikelola secara dewasa.
Tenda bangsa adalah gambaran kampus yang terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar, berdiskusi, menyampaikan gagasan, dan berkontribusi bagi kemajuan Indonesia. Kampus harus menjadi tempat yang mempersatukan, bukan memperlebar jarak; membangun pemahaman, bukan memelihara permusuhan, tegasnya.
Ia menambahkan, semangat tersebut selaras dengan nilai nilai Pancasila yang mengedepankan kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Perguruan tinggi memiliki posisi strategis untuk menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam praktik pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pembentukan karakter generasi muda.
Rumah Besar Kaum Intelektual
Selain sebagai tenda bangsa, kampus harus menjadi rumah besar kaum intelektual. Rumah dalam pengertian ini bukan semata mata bangunan fisik, melainkan lingkungan yang memungkinkan pemikiran tumbuh, integritas dijaga, dan tanggung jawab sosial dikembangkan.
Kaum intelektual, menurut Iswadi, tidak cukup hanya memiliki pengetahuan luas dan kemampuan akademik yang tinggi. Mereka juga harus mempunyai keberanian menyampaikan kebenaran berdasarkan fakta, kesediaan mendengarkan pandangan berbeda, serta kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.
Intelektualitas harus berjalan beriringan dengan integritas. Kecerdasan tanpa tanggung jawab moral berisiko digunakan untuk kepentingan sempit. Sebaliknya, ilmu pengetahuan yang disertai kejujuran, empati, dan komitmen terhadap kepentingan umum dapat menjadi kekuatan penting dalam mendorong perubahan sosial.
Karena itu, perguruan tinggi perlu membangun ekosistem akademik yang menjunjung tinggi kebebasan berpikir dan kebebasan akademik yang bertanggung jawab. Dosen dan mahasiswa harus memperoleh kesempatan untuk mengembangkan pemikiran kritis, menguji kebijakan berdasarkan data, serta menyampaikan kritik tanpa kehilangan etika dan penghormatan terhadap hukum.
Menurutnya, kampus juga perlu memperkuat hubungan antara penelitian akademik dan kebutuhan nyata masyarakat. Hasil penelitian hendaknya tidak berhenti sebagai dokumen ilmiah, tetapi dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan, inovasi pembelajaran, penguatan ekonomi masyarakat, peningkatan kualitas pelayanan publik, dan solusi atas berbagai persoalan sosial.
Dengan demikian, rumah besar kaum intelektual bukan hanya melahirkan orang orang pintar, melainkan juga pribadi yang mampu menggunakan kepintarannya untuk memberikan manfaat bagi sesama.
Kampus Harus Hadir Menjawab Persoalan Bangsa
Iswadi berpandangan bahwa tantangan Indonesia semakin kompleks. Persoalan kualitas pendidikan, kesenjangan sosial, perkembangan teknologi, perubahan dunia kerja, penyebaran informasi palsu, serta melemahnya etika dalam ruang publik membutuhkan kontribusi pemikiran yang serius dan berbasis ilmu pengetahuan.
Dalam situasi tersebut, perguruan tinggi harus mampu menjalankan fungsi kritis sekaligus konstruktif. Kampus perlu memberikan masukan terhadap kebijakan publik, melakukan penelitian independen, menyampaikan hasil kajian kepada masyarakat, dan menawarkan alternatif penyelesaian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Ia menegaskan bahwa sikap kritis terhadap kebijakan bukan berarti memusuhi pemerintah. Kritik akademik yang disampaikan secara objektif justru dapat menjadi bagian dari upaya memperbaiki tata kelola pemerintahan dan memastikan kebijakan semakin berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Sebaliknya, dukungan terhadap kebijakan juga harus didasarkan pada kajian yang rasional, bukan sekadar kedekatan atau kepentingan tertentu. Independensi akademik menjadi penting agar kampus tetap dipercaya sebagai salah satu sumber pengetahuan dan pertimbangan publik.
Kampus harus berani menyampaikan apa yang benar berdasarkan kajian ilmiah, sekaligus menawarkan solusi. Jangan hanya pandai mengkritik tanpa memberikan jalan keluar, tetapi jangan pula kehilangan daya kritis hanya karena ingin menyenangkan pihak tertentu, ungkapnya.
Ia juga mendorong perguruan tinggi memperluas kemitraan dengan sekolah, pemerintah daerah, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan komunitas lokal. Kolaborasi tersebut harus dibangun untuk mempertemukan keunggulan akademik dengan pengalaman praktis masyarakat, sehingga ilmu pengetahuan menghasilkan manfaat yang lebih luas.
Pendidikan Harus Melahirkan Manusia Berkarakter
Dalam bidang pendidikan, Iswadi menilai keberhasilan perguruan tinggi tidak semestinya diukur hanya dari jumlah lulusan, capaian akreditasi, produktivitas publikasi, atau prestasi administratif. Seluruh indikator tersebut penting, tetapi perlu dilengkapi dengan ukuran dampak sosial, kualitas karakter lulusan, dan kontribusi institusi terhadap kemajuan masyarakat.
Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan generasi yang tidak hanya kompeten secara profesional, tetapi juga jujur, disiplin, toleran, bertanggung jawab, dan mampu bekerja sama di tengah keberagaman.
Perkembangan kecerdasan buatan dan transformasi digital semakin memperkuat kebutuhan tersebut. Mahasiswa perlu menguasai teknologi, tetapi juga harus mampu menilai informasi secara kritis, menjaga etika, dan memahami konsekuensi sosial dari penggunaan teknologi.
Pendidikan tinggi harus membentuk manusia yang tidak sekadar mampu bersaing, tetapi juga mempunyai kesadaran untuk berkontribusi. Kecerdasan perlu diarahkan oleh kebijaksanaan, kemampuan profesional harus disertai integritas, dan keberhasilan pribadi hendaknya berjalan bersama kepedulian terhadap kepentingan publik.
Dosen, dalam pandangan Iswadi, memegang peran penting sebagai pendidik, peneliti, sekaligus teladan intelektual. Keteladanan dosen dalam berpikir kritis, menghargai perbedaan, menjaga kejujuran ilmiah, dan mengabdi kepada masyarakat merupakan bagian penting dari pendidikan karakter mahasiswa.
Membangun Peradaban dari Kampus
Menutup pandangannya, Iswadi mengajak seluruh sivitas akademika untuk menjadikan perguruan tinggi sebagai ruang yang hidup, terbuka, dan memberikan manfaat nyata. Rektor, dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, serta seluruh pemangku kepentingan perlu bersama sama membangun budaya akademik yang sehat dan berorientasi pada kemajuan bangsa.
Ia berharap kampus Indonesia semakin berani melahirkan gagasan besar, memperkuat tradisi penelitian, membangun dialog lintas kelompok, dan menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat.
Kita membutuhkan kampus yang tidak hanya megah bangunannya, tetapi juga besar pemikirannya; tidak hanya tinggi prestasi akademiknya, tetapi juga kuat integritasnya; serta tidak hanya dikenal karena gelar dan publikasinya, tetapi juga dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, tuturnya.
Bagi Iswadi, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam dan kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kualitas manusia, kekuatan karakter, dan kemampuan membangun kehidupan bersama secara beradab.
Karena itu, kampus harus mengambil bagian dalam perjalanan tersebut. Kampus perlu menjadi tenda yang menaungi keberagaman, rumah yang menyuburkan pemikiran, dan pusat peradaban yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kemanusiaan.
Pada akhirnya, perguruan tinggi akan menemukan makna terdalamnya ketika ilmu yang dikembangkan mampu menerangi kehidupan, pemikiran yang dilahirkan membantu menyelesaikan persoalan, dan manusia yang dididik bersedia mengabdikan kemampuan mereka bagi kepentingan bangsa.
Kampus bukan sekadar menara gading. Kampus adalah tenda bangsa, rumah besar kaum intelektual, dan salah satu fondasi penting bagi masa depan Indonesia.##







