Mabestv.Newsz.id, BANYUWANGI – Turnamen Piala Ketua PSSI Banyuwangi yang digelar antarkampung di Lapangan Maron, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, diwarnai kericuhan saat pertandingan semifinal antara Desi Banteng FC Muncar melawan Persegam Gambiran.
Kericuhan yang terjadi di tengah tingginya antusiasme masyarakat itu melibatkan sejumlah suporter dan mengakibatkan beberapa penonton mengalami luka-luka. Sejumlah korban bahkan harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis. Hingga sehari setelah kejadian, beberapa korban dilaporkan masih menjalani perawatan intensif.
Peristiwa tersebut menjadi perhatian publik setelah video bentrokan yang terjadi di sekitar lapangan beredar luas di media sosial. Dalam rekaman yang beredar, terlihat situasi pertandingan berubah mencekam akibat bentrok antarsuporter.
Pendiri sekaligus pentolan Desi Banteng FC, Desi Prakasiwi, menyampaikan kekecewaannya terhadap panitia pelaksana turnamen. Menurutnya, panitia dinilai kurang sigap dalam menangani dampak kerusuhan, terutama terhadap para korban yang mengalami luka-luka.
“Sampai saat ini kami tidak melihat adanya perhatian serius dari panitia kepada para korban. Padahal banyak yang mengalami luka dan harus mendapatkan perawatan,” ujarnya.
Desi juga mengungkapkan bahwa sebelum pertandingan berlangsung, pihaknya telah menyampaikan masukan dalam technical meeting agar laga semifinal dipindahkan ke stadion resmi yang dinilai memiliki fasilitas keamanan lebih memadai. Namun usulan tersebut tidak diakomodasi oleh penyelenggara.
Menurutnya, potensi terjadinya kericuhan sebenarnya sudah dapat diprediksi sejak awal. Bahkan sebelum pertandingan dimulai, ketegangan antarpendukung disebut telah terlihat di sekitar lokasi pertandingan.
“Kami sudah mengingatkan sejak technical meeting agar pertandingan dipindah ke stadion yang lebih layak demi keamanan. Namun masukan itu tidak ditindaklanjuti,” katanya.
Lebih lanjut, Desi meminta panitia pelaksana bertanggung jawab penuh atas insiden yang terjadi. Ia menilai perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan turnamen agar kejadian serupa tidak terulang pada masa mendatang.
Selain itu, ia juga menyinggung kemungkinan adanya unsur kelalaian dalam penyelenggaraan pertandingan yang dapat menjadi perhatian aparat penegak hukum apabila ditemukan pelanggaran terhadap standar keamanan kegiatan olahraga.
Meski kericuhan sempat menghentikan jalannya pertandingan dan menimbulkan korban, agenda semifinal turnamen tetap dilanjutkan untuk menentukan tim yang berhak melaju ke partai final.
Insiden tersebut kini menjadi sorotan masyarakat Banyuwangi dan memunculkan berbagai pertanyaan mengenai kesiapan penyelenggara dalam menjamin keamanan pertandingan yang melibatkan massa dalam jumlah besar. Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari panitia pelaksana terkait tuntutan dan kritik yang disampaikan pihak Desi Banteng FC maupun kondisi terkini seluruh korban yang dirawat.(Imam/Nur H)