Mabestvnews, Jakarta : Pengamat pendidikan dan sosial, Dr. Iswadi, menegaskan bahwa perubahan besar dalam dunia kerja telah menggeser standar penilaian terhadap lulusan pendidikan tinggi maupun sekolah kejuruan. Jika sebelumnya prestasi akademik menjadi ukuran utama dalam proses rekrutmen tenaga kerja, kini perusahaan lebih menekankan pentingnya karakter, integritas, serta kemampuan interpersonal calon pekerja.
Menurut Dr. Iswadi, perkembangan teknologi dan perubahan pola kerja global membuat perusahaan membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki sikap profesional, etos kerja tinggi, kemampuan beradaptasi, serta mental yang kuat dalam menghadapi tekanan kerja.
Dunia kerja saat ini tidak lagi hanya melihat ijazah dan nilai akademik. Perusahaan mencari individu yang memiliki karakter kuat, mampu bekerja sama, disiplin, jujur, dan bertanggung jawab. Karakter menjadi modal utama untuk bertahan dan berkembang di era persaingan modern, ujar Dr. Iswadi dalam keterangannya kepada media.
Ia menjelaskan bahwa banyak perusahaan kini menghadapi tantangan dalam menemukan tenaga kerja muda yang benar-benar siap memasuki dunia profesional. Tidak sedikit lulusan baru yang dinilai memiliki kemampuan teori cukup baik, tetapi lemah dalam komunikasi, kerja tim, serta kemampuan menghadapi tantangan di lingkungan kerja.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa sistem pendidikan masih terlalu berorientasi pada capaian akademik semata dan belum sepenuhnya berhasil membangun karakter peserta didik. Akibatnya, lulusan yang dihasilkan sering kali unggul di atas kertas, tetapi kurang siap menghadapi realitas dunia kerja yang penuh kompetisi dan tekanan.
Pendidikan seharusnya tidak hanya mencetak orang pintar, tetapi juga membentuk manusia yang berintegritas dan memiliki kepedulian sosial. Dunia kerja membutuhkan orang yang dapat dipercaya dan mampu memberikan kontribusi positif bagi perusahaan, katanya.
Dr. Iswadi menilai bahwa penguatan pendidikan karakter harus menjadi prioritas utama di semua jenjang pendidikan. Sekolah dan perguruan tinggi, menurutnya, perlu membangun budaya belajar yang tidak hanya fokus pada nilai ujian, tetapi juga membentuk sikap disiplin, kerja keras, tanggung jawab, dan kemampuan menyelesaikan masalah.
Ia menegaskan bahwa pembentukan karakter tidak dapat dilakukan secara instan melalui teori semata. Pendidikan karakter harus diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah maupun kampus. Guru dan dosen perlu menjadi teladan dalam menanamkan nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, dan profesionalisme kepada peserta didik.
Karakter terbentuk melalui proses panjang, melalui pembiasaan dan keteladanan. Lingkungan pendidikan harus mampu menciptakan budaya positif yang mendorong peserta didik menjadi pribadi tangguh dan beretika, ungkapnya.
Selain lembaga pendidikan, Dr. Iswadi juga menyoroti pentingnya peran keluarga dalam membangun karakter generasi muda. Ia menilai bahwa keluarga merupakan tempat pertama bagi anak untuk belajar tentang tanggung jawab, sopan santun, disiplin, dan empati terhadap sesama.
Menurutnya, tantangan generasi muda saat ini semakin besar karena pengaruh media sosial dan budaya instan yang berkembang pesat. Banyak anak muda lebih fokus mengejar popularitas dan hasil cepat dibanding membangun proses belajar serta pengalaman yang matang. Kondisi tersebut dapat memengaruhi mentalitas kerja dan daya tahan generasi muda dalam menghadapi tantangan profesional.
Generasi muda harus dibekali mental yang kuat dan semangat belajar yang tinggi. Dunia kerja membutuhkan orang-orang yang mampu beradaptasi dengan perubahan dan tidak mudah menyerah menghadapi tekanan, jelas Dr. Iswadi.
Ia juga menilai bahwa perusahaan modern saat ini semakin menempatkan soft skills sebagai faktor penting dalam proses rekrutmen. Kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kreativitas, dan kerja sama tim menjadi nilai tambah yang sangat diperhatikan oleh perusahaan.
Bahkan, kata dia, banyak perusahaan lebih memilih kandidat yang memiliki sikap baik dan kemampuan bekerja sama meskipun nilai akademiknya biasa saja, dibanding lulusan dengan nilai tinggi tetapi sulit beradaptasi dan tidak memiliki etika kerja yang baik.
Ilmu pengetahuan bisa terus dipelajari dan ditingkatkan, tetapi karakter menentukan bagaimana seseorang menggunakan ilmunya. Karena itu, integritas dan sikap profesional menjadi sangat penting di dunia kerja saat ini, katanya.
Dr. Iswadi berharap pemerintah dapat memperkuat kebijakan pendidikan karakter sebagai bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Ia menilai bahwa sinergi antara pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, keluarga, dan dunia usaha sangat diperlukan untuk menciptakan generasi muda yang unggul secara intelektual sekaligus kuat secara moral.
Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar untuk memanfaatkan bonus demografi dalam beberapa dekade mendatang. Namun, peluang tersebut hanya akan menjadi kekuatan apabila generasi mudanya memiliki kualitas karakter yang baik dan siap menghadapi tantangan global.
Bonus demografi tidak akan berarti jika generasi mudanya tidak memiliki karakter, disiplin, dan etos kerja. Karena itu, pembangunan manusia harus dimulai dari pembangunan karakter, tegasnya.
Di akhir keterangannya, Dr. Iswadi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun budaya pendidikan yang lebih menekankan nilai moral, etika, dan tanggung jawab sosial. Ia menegaskan bahwa masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas karakter generasi mudanya.
Kesuksesan di dunia kerja bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan akademik, tetapi juga oleh kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan menghargai orang lain. Dunia kerja saat ini membutuhkan pribadi yang tidak hanya pintar, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, tutup Dr. Iswadi.##