Mabestvnews, Jakarta : Bagi sebagian orang, memperoleh gelar akademik mungkin menjadi titik akhir dari perjalanan pendidikan. Namun, bagi Dr. Iswadi, S.Pd., M.Pd., belajar justru merupakan perjalanan yang tidak pernah selesai. Di tengah kesibukannya sebagai akademisi, dosen, peneliti, dan penulis, ia terus berupaya memperluas wawasan dan memperbarui pengetahuan agar dapat memberikan kontribusi bagi kemajuan pendidikan.
Dr. Iswadi memandang bahwa seorang pendidik tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan yang pernah diperoleh di bangku pendidikan formal. Perubahan ilmu pengetahuan, teknologi, karakter peserta didik, serta tuntutan masyarakat membuat pendidik harus terus belajar dan melakukan pembaruan.
Baginya, pendidikan merupakan bidang yang dinamis. Apa yang efektif pada masa lalu belum tentu sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan pembelajaran pada masa kini. Karena itu, pendidik perlu memiliki kemauan untuk membaca, berdiskusi, melakukan penelitian, menulis, mengikuti perkembangan teknologi, dan terus mengembangkan kompetensi.
Pendidik tidak boleh berhenti belajar. Ketika kita berhenti belajar, kita akan kesulitan memberikan pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan zaman, demikian semangat yang menjadi bagian dari perjalanan akademiknya.
Semangat tersebut tidak hanya diwujudkan melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui berbagai aktivitas akademik dan pengembangan keilmuan. Bagi Dr. Iswadi, proses belajar dapat berlangsung melalui banyak ruang, mulai dari membaca berbagai literatur, melakukan penelitian, mengikuti perkembangan teknologi pendidikan, berdiskusi dengan sesama akademisi, hingga menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan dan buku.
Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi salah satu perubahan yang mendapat perhatian dalam pemikirannya. Menurutnya, perkembangan AI menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi dunia pendidikan. Pendidik dituntut tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya secara bijak, kritis, dan bertanggung jawab.
Di tengah perkembangan tersebut, ia terus mendorong pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan. Menurutnya, teknologi hanyalah alat, sedangkan kualitas manusia tetap menjadi faktor penting dalam menentukan arah pembangunan bangsa.
Aktivitas penelitian dan publikasi menjadi bagian lain dari upayanya untuk terus belajar. Sejumlah kajian yang berkaitan dengan kepemimpinan pendidikan, transformasi pendidikan di era kecerdasan buatan, karakter, serta pengembangan sumber daya manusia menjadi bagian dari perhatian akademiknya.
Bagi Dr. Iswadi, penelitian bukan hanya kewajiban akademik. Penelitian merupakan salah satu cara untuk memahami persoalan pendidikan secara lebih mendalam dan menemukan gagasan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Hal yang sama berlaku dalam kegiatan menulis. Menulis menjadi ruang untuk mengolah pengetahuan, menyampaikan gagasan, sekaligus membuka ruang dialog mengenai berbagai persoalan pendidikan. Sejumlah buku dan tulisan yang dihasilkannya mengangkat tema pendidikan dasar, kepemimpinan, karakter, integritas, serta tantangan pendidikan di era perkembangan teknologi.
Semangat belajar sepanjang hayat juga terlihat dari perhatian Dr. Iswadi terhadap persoalan pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan. Ia memandang bahwa pembangunan sumber daya manusia harus ditempatkan sebagai bagian penting dari pembangunan nasional.
Dalam berbagai gagasannya, ia menekankan bahwa pendidikan memiliki posisi strategis dalam menyiapkan generasi yang memiliki pengetahuan, keterampilan, karakter, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.
Bagi seorang pendidik, menurutnya, ilmu yang diperoleh tidak seharusnya berhenti pada diri sendiri. Ilmu harus diterjemahkan menjadi pembelajaran yang bermanfaat bagi mahasiswa dan peserta didik, dikembangkan melalui penelitian, kemudian dibagikan kepada masyarakat.
Belajar bukan hanya untuk memperoleh pengetahuan, tetapi bagaimana ilmu tersebut dapat memberikan manfaat bagi orang lain, menjadi semangat yang menggambarkan pandangannya mengenai tanggung jawab seorang akademisi.
Perjalanan Dr. Iswadi juga menjadi gambaran bahwa gelar akademik bukanlah akhir dari proses belajar. Sebaliknya, gelar merupakan amanah untuk terus meningkatkan kompetensi, memperluas wawasan, dan memberikan kontribusi yang lebih besar.
Di tengah perubahan pendidikan yang berlangsung semakin cepat, kemampuan untuk terus belajar menjadi semakin penting. Kehadiran teknologi digital dan AI menuntut pendidik untuk terus beradaptasi tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan, karakter, etika, dan tujuan utama pendidikan.
Karena itu, berburu ilmu bagi Dr. Iswadi bukan sekadar mengejar pengetahuan, tetapi merupakan bagian dari pengabdian sebagai seorang pendidik Setiap pengetahuan baru diharapkan dapat memperkaya cara berpikir, meningkatkan kualitas pembelajaran, dan pada akhirnya memberikan manfaat yang lebih luas bagi dunia pendidikan.
Dengan semangat terus belajar, terus mengajar, terus meneliti, dan terus berbagi, Dr. Iswadi berupaya menjadikan perjalanan akademiknya bukan semata mata sebagai pencapaian pribadi, melainkan sebagai bagian dari ikhtiar untuk ikut membangun pendidikan Indonesia yang berkualitas, adaptif, dan mampu menjawab tantangan masa depan.##

