Mabestv.Newsz.id, KABUPATEN MALANG — Semarak pelestarian budaya asli Nusantara semakin memukau di Kabupaten Malang. Pagelaran Seni Reog Ponorogo bertajuk “Gembong Singo Dermo” digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-42 kelompok seni tersebut. Acara berlangsung pada Sabtu, 29 Agustus 2026, pukul 19.00 WIB hingga selesai, bertempat di Jalan Raya Dermo Mulyo Agung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.
Pagelaran ini menjadi bukti nyata kelestarian dan kebanggaan akan warisan budaya leluhur yang terus dijaga dan dikembangkan oleh masyarakat. Reog Ponorogo yang ditampilkan membawa nuansa kental tradisi dan kekuatan budaya Jawa Timur, diharapkan dapat menghibur sekaligus mempererat rasa cinta terhadap budaya bangsa di tengah masyarakat. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan dihadiri oleh seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga dewasa.
Peringatan HUT ke-42 ini bukan sekadar perayaan, melainkan ajang dan kegiatan rutin yang bertujuan melestarikan budaya tradisional Reog sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda. Usia 42 tahun “Gembong Singo Dermo” menjadi bukti keteguhan kelompok ini dalam menjaga identitas budaya daerah. Di usia yang ke-42 ini, muncul harapan baru melalui Dodik, yang merupakan pewaris penerus dari orang tuanya, kini tampil membawa semangat regenerasi agar budaya Reog tetap hidup dan terus diwariskan ke generasi berikutnya. Tujuannya sederhana namun bermakna mendalam: agar generasi muda paham bahwa bangsa ini memiliki budaya yang beraneka ragam, salah satunya adalah seni Reog Ponorogo.
Selama 42 tahun berdiri, kelompok seni Reog “Gembong Singo Dermo” tak luput dari berbagai tantangan. Salah satu yang paling terasa adalah proses regenerasi ke generasi berikutnya yang berjalan lambat. Masih banyak pihak yang kurang memahami pentingnya pelestarian budaya, sehingga jumlah pelaku dan penggiat seni budaya perlahan berkurang. Ditambah lagi, munculnya budaya-budaya baru yang semarak di beberapa daerah secara tidak sadar turut menggerus keberadaan budaya lokal yang asli. Kehadiran Dodik sebagai pewaris dari orang tuanya diharapkan menjadi titik balik agar regenerasi berjalan lebih cepat dan budaya Reog tetap lestari.
Menatap ke depan, harapan para penggiat seni budaya sederhana namun teguh: seni budaya tradisional tetap bertahan dan selalu mengedepankan budaya lokal sebagai wujud identitas suatu daerah. Khusus untuk regenerasi, diharapkan semakin banyak generasi muda yang ikut melestarikan budaya — baik dengan hadir dalam pagelaran-pagelaran, maupun mengikuti pendidikan dan pelatihan seni budaya untuk menambah pengetahuan serta wawasan tentang pentingnya berkarya dan berkesenian. Semangat yang ditunjukkan oleh Dodik yang meneruskan jejak orang tuanya diharapkan dapat menginspirasi pemuda-pemuda lain untuk turut bergabung dan melestarikan budaya leluhur.
Kepada generasi muda, kelompok ini menyampaikan pesan tulus: “Kita terus mengajak generasi muda untuk mencintai seni dan budaya. Siapa lagi yang nantinya akan meneruskan budaya ini jika bukan kita, generasi muda sendiri? Hal ini bisa dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga, dengan memberikan edukasi sejak dini tentang pentingnya seni dan budaya.” Semangat yang ditunjukkan Dodik sebagai pewaris dari orang tuanya menjadi bukti bahwa cinta budaya dapat diturunkan dari generasi ke generasi.
Antusiasme masyarakat terhadap pagelaran ini terbilang sangat baik. Sepanjang acara berlangsung, penonton tampak sangat banyak dan dukungan mengalir deras — baik berupa tenaga, materi, maupun bentuk lainnya. Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun, tepatnya pada bulan Agustus, bertepatan dengan peringatan HUT kelompok seni Reog. Ke depannya, kelompok ini juga berwacana menggelar perlombaan tari jaranan, dan berharap dapat terealisasi kembali seperti beberapa tahun yang lalu.(Imam)

