Di tengah perjalanan menuju kota Jayapura, di wilayah pedalaman Kabupaten Puncak, Papua, sebuah kegiatan tak biasa berlangsung. Prajurit TNI dari Satuan Tugas Batalyon Infanteri (Satgas Yonif) 700/Wyc, dengan penuh semangat mengajar anak-anak di sekitar Pos Pintu Jawa. Kegiatan ini tidak hanya menjadi bentuk bakti sosial, tetapi juga menjadi harapan bagi generasi muda di daerah terpencil tersebut.
Kepala Pos Pintu Jawa, Letda Inf Risal, menjelaskan bahwa kegiatan belajar mengajar ini dipimpin oleh Praka Fajar. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan anak-anak serta memotivasi mereka agar lebih giat dalam menuntut ilmu. Dalam kegiatan itu, prajurit TNI mengajarkan dasar-dasar membaca dan menulis kepada anak-anak di sekitar Titik Kuat, memberikan motivasi agar mereka bisa terus berkembang.
“Kami sangat senang ketika bisa membantu anak-anak belajar. Melihat mereka gembira saat belajar membuat kami merasa bahwa tugas kami tidak sia-sia,” ujar Risal.
Dari pengamatan, kehadiran TNI di sekolah-sekolah pedalaman ini tidak hanya menjadi bentuk bantuan sementara, tetapi juga langkah strategis untuk memperkuat pendidikan di daerah yang seringkali kesulitan mendapatkan tenaga pengajar. Menurut Risal, pihaknya akan terus bekerja sama dengan pihak sekolah di sekitar Pos Pintu Jawa dengan menyediakan guru pengganti dari personil TNI yang ada di sana.
Lindisong, salah satu anak yang ikut dalam kegiatan tersebut, mengaku sangat senang dan bangga karena ada prajurit TNI yang mengajar di kampungnya. “Kami senang ketika om-om tentara mau membantu mengajar kami bisa membaca dan menulis,” katanya.

Selain kegiatan TNI, ada juga cerita lain yang menyentuh hati tentang dedikasi pemuda lokal. Amoye Madai, seorang pemuda asli Papua Tengah, viral di media sosial setelah menunjukkan keinginannya untuk menjadi guru di kampung halamannya. Ia mendaftar kuliah di Universitas Muhammadiyah Sorong (Unimuda) dengan harapan bisa mengajar anak-anak di kampungnya yang tidak memiliki akses pendidikan yang memadai.
Amoye adalah contoh nyata dari generasi muda yang sadar akan pentingnya pendidikan. Ia ingin mengubah kondisi kampung halamannya melalui pendidikan, meskipun harus melewati tantangan besar. Dengan mimpi itu, ia menjadi inspirasi bagi banyak orang, termasuk para pemuda lain di kawasan 3T (terdepan, terluar, tertinggal).
Pendidikan di Papua masih menjadi tantangan besar. Meski pemerintah telah melakukan berbagai upaya seperti program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) dan Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik), angka melek huruf di Papua masih rendah. Data BPS tahun 2023 menunjukkan bahwa hanya 84,22% penduduk usia 15 tahun ke atas di Papua yang mampu membaca dan menulis, jauh di bawah rata-rata nasional sebesar 96,53%.
Masalah ini tidak hanya terjadi di tingkat akademis, tetapi juga mencerminkan ketidakseimbangan dalam akses pendidikan antara daerah perkotaan dan pedalaman. Di kawasan 3T, jumlah sekolah negeri dan swasta tidak seimbang, sehingga menyebabkan kesenjangan dalam kualitas pendidikan.
Namun, kehadiran TNI dan komunitas seperti Amoye Madai menunjukkan bahwa ada harapan. Mereka membuktikan bahwa pendidikan bisa diberikan bahkan di tempat-tempat yang dianggap sulit dijangkau. Dengan dukungan dari pemerintah dan masyarakat, akses pendidikan di Papua bisa terus ditingkatkan.
Kisah TNI mengajar di pedalaman Papua bukan hanya tentang pembelajaran, tetapi juga tentang harapan. Harapan bahwa setiap anak, terlepas dari latar belakangnya, memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik. Dengan semangat seperti ini, semoga kehidupan pendidikan di Papua bisa terus berkembang, memberikan peluang bagi generasi muda untuk menulis sejarah baru.