Mabestv.Newsz.id, NASIONAL – Pada akhirnya, perjalanan hidup manusia bukanlah tentang seberapa tinggi ia berdiri, seberapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan, seberapa besar jabatan yang pernah diduduki, atau seberapa banyak manusia yang mengenal namanya. Pada akhirnya, semua akan kembali kepada satu pertanyaan sederhana namun mendalam: Apakah Allah ridho kepada kita?
Kita boleh mengejar kesuksesan, tetapi jangan sampai kehilangan keberkahan. Kita boleh memiliki harta, tetapi jangan sampai harta menguasai hati. Kita boleh memiliki kekuasaan, tetapi jangan sampai lupa bahwa di atas segala kuasa manusia, ada kuasa Allah Yang Maha Mutlak.
Dunia ini hanyalah persinggahan. Apa yang kini kita banggakan, suatu saat akan kita tinggalkan. Rumah akan ditinggalkan, jabatan akan berakhir, harta akan berpindah tangan, dan nama perlahan terlupakan. Namun amal yang dilakukan dengan ikhlas karena-Nya akan menjadi bekal abadi saat kita berdiri seorang diri di hadapan-Nya.
Maka jangan bersedih jika manusia tak menghargaimu, jangan kecewa jika kebaikan dibalas keburukan, jangan marah jika perjuangan tak dipahami, dan jangan merasa kalah jika dunia tak berpihak padamu. Selama Allah tahu perjuanganmu, kau tak pernah benar-benar sendirian.
Ada saat manusia menutup pintu, tapi Allah membuka jalan yang tak disangka-sangka. Ada saat manusia merendahkan, tapi Allah meninggikan derajatmu. Ada saat doa terasa belum terjawab, padahal Allah sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik dari apa yang kau minta.
Teruslah melangkah. Jika langkahmu benar, jangan berhenti hanya karena dicela. Jika niatmu karena Allah, jangan berhenti hanya karena tak dipuji. Jika perjuanganmu demi kebaikan, jangan berhenti hanya karena hasil belum tampak. Allah tak menilai sekadar dari hasil, melainkan juga niat, air mata, kesabaran, pengorbanan, dan setiap langkah yang kau tempuh menuju-Nya.
Mendapat ridho-Nya bukan berarti hidup tanpa masalah, tanpa kehilangan, atau semua keinginan terkabul. Justru kadang kasih sayang-Nya tampak saat Ia mengambil apa yang kau cintai, agar hatimu kembali sepenuhnya kepada-Nya. Kadang Ia menutup satu pintu agar kau temukan jalan yang lebih baik. Kadang Ia biarkan kau jatuh agar kau belajar bersandar hanya kepada-Nya. Dan kadang Ia biarkan manusia menjauh agar kau sadar: tempat bergantung yang paling sempurna hanyalah Allah.
Maka bertambahnya usia, hendaknya makin sedikit kesombongan, makin banyak rasa syukur; makin sedikit ingin dipuji, makin besar ingin berbuat baik; makin sedikit dendam, makin banyak memberi maaf; makin sedikit mengejar pengakuan manusia, makin sungguh-sungguh mencari ridho-Nya. Kita tak tahu kapan perjalanan ini usai. Hari ini kita merencanakan esok, namun bagi Allah esok belum tentu milik kita.
Maka sebelum terlambat, mari pulang kepada-Nya. Bukan dengan kesombongan, melainkan hati yang tunduk; bukan daftar keberhasilan, melainkan amal yang ikhlas; bukan kebanggaan atas apa yang dimiliki, melainkan rasa syukur atas apa yang dititipkan. Dan jika suatu saat dunia meninggalkan kita, semoga satu hal tetap setia menyertai: Ridho Allah.
Itulah kemenangan sejati: bukan mengalahkan orang lain, tapi mengalahkan kesombongan diri; bukan mendapatkan semua yang diinginkan, tapi hati yang menerima ketetapan-Nya; bukan dicintai semua manusia, tapi dicintai Allah.
Maka selama masih diberi napas, perbaikilah diri. Jika salah, bertaubatlah. Jika menyakiti, mintalah maaf. Jika dizalimi, serahkan pada-Nya. Jika gagal, bangkitlah. Jika kehilangan, bersabarlah. Jika diberi nikmat, bersyukurlah. Dan jika dipanggil pulang, semoga kita kembali dengan hati yang tenang.
Sebagaimana doa yang kita harapkan:
“Ya Allah, jadikanlah akhir perjalanan hidup kami sebagai perjalanan menuju ridho-Mu. Ampunilah dosa-dosa kami, terimalah amal-amal kami, berkahilah keluarga kami, cukupkanlah rezeki kami, tenangkanlah hati kami, dan jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau berikan petunjuk.”
Kita tak butuh hidup sempurna menurut dunia. Kita butuh hidup yang diberkahi Allah. Kita tak butuh semua orang memahami kita. Kita butuh Allah tahu siapa kita sebenarnya. Dan kita tak butuh akhir yang sempurna menurut ukuran manusia. Kita butuh satu akhir terindah: pulang dalam keadaan Allah ridho kepada kita.
Maka teruslah berjalan, dengan iman, sabar, ikhlas, doa, dan kebaikan—sampai langkah terakhir membawamu ke tempat di mana tak ada lagi duka, kehilangan, atau ketakutan. Di sana semoga kau dengar panggilan terindah:
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya.”
Dan semoga saat itu kau bisa menjawab dengan syukur:
“Ya Allah, akhirnya aku pulang.”
Karena tujuan sejati kita sederhana: bukan sukses di mata dunia, tapi menjadi hamba yang diridhoi-Nya. Semoga akhir hidup kita bukan sekadar kematian, melainkan kepulangan penuh rahmat dan ridho-Nya.(Media Group)

