Mabestv.Newsz.id, NASIONAL — Jurnalis bukan sekadar orang yang menulis berita. Jurnalis adalah mereka yang berani bertanya ketika banyak orang memilih diam, berani mencari fakta ketika opini mulai berkuasa, serta berani menyuarakan kebenaran ketika kepentingan mencoba membungkam.
Jangan jadikan pena hanya sebagai alat untuk mencari berita. Jadikan pena sebagai sarana menguji kekuasaan, menyuarakan fakta, dan menjaga suara masyarakat. Sebab, sebuah berita mungkin dapat dilupakan, tetapi kebenaran yang diperjuangkan akan selalu meninggalkan jejak.
Menyikapi dinamika profesi jurnalistik saat ini, Imam, Wakil Kepala Perwakilan Jawa Timur Media Mabestv.Newsz.id, menyoroti kondisi yang dinilainya perlu menjadi perhatian bersama. Menurutnya, masih ada pihak yang mengaku sebagai jurnalis, tetapi belum sepenuhnya memahami arti, makna, serta fungsi jurnalistik.
Sebagian bahkan dinilai lebih mengandalkan Kartu Tanda Anggota (KTA) sebagai identitas, tanpa diimbangi karya jurnalistik, tanggung jawab, pemahaman kode etik, maupun pengabdian terhadap profesi dan masyarakat.
“KTA hanyalah tanda pengenal, bukan jaminan profesionalisme. Memegang kartu tanpa memahami tugas, kewajiban, dan kode etik berarti mengabaikan roh jurnalistik itu sendiri.
Jurnalisme bukan sekadar profesi, melainkan amanah untuk menyampaikan kebenaran kepada publik,” tegas Imam.
Ia mengajak seluruh rekan seprofesi untuk terus meningkatkan kualitas diri, tajam dalam berpikir, berani dalam bertanya, cermat dalam menulis, serta teguh menjaga integritas.
“Jangan takut membuat berita yang membuat orang berpikir. Takutlah ketika tulisan kita justru membuat kebenaran kehilangan suara,” pesannya.
Pada akhirnya, identitas seorang jurnalis tidak hanya terlihat dari kartu yang dibawa, tetapi dari karya, sikap, tanggung jawab, dan keberanian dalam menjalankan tugas jurnalistik secara profesional.
Satu pena. Tetap kritis, tetap independen, tetap berintegritas.
(imm)

