Baru-baru ini, video yang memperlihatkan seekor gajah di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) viral di media sosial. Video tersebut menampilkan tingkah lucu dan menggemaskan dari anak gajah bernama Nisa, yang berhasil menarik perhatian warganet. Namun, di balik kegembiraan yang ditimbulkan oleh video tersebut, muncul pertanyaan tentang bagaimana situasi konflik antara satwa liar dan manusia di kawasan tersebut.
Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan spesies langka yang dilindungi dan menjadi salah satu fokus utama perlindungan ekosistem di TNWK. Namun, seiring dengan perkembangan wilayah dan peningkatan interaksi manusia dengan satwa liar, konflik antara keduanya semakin sering terjadi. Salah satu contohnya adalah kasus gajah yang tiba-tiba “ngamuk” dan viral di media sosial.
Dalam beberapa unggahan di akun TikTok @mubyholic, Nisa terlihat bermain dan menunjukkan sisi lucu serta menggemaskan. Video-video tersebut menampilkan Nisa berjoget, main bola, hingga mencoba makan besar tetapi gagal. Meski video tersebut menarik banyak perhatian, ia juga menunjukkan tanda-tanda kelelahan karena dikerubungi pengunjung. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang dampak interaksi langsung antara manusia dan satwa liar, terutama bagi individu yang masih muda.
Sebagai respons atas situasi ini, Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK) telah meningkatkan upaya mitigasi konflik antara gajah dan manusia. Kepala Balai TNWK, MHD Zaidi, menyatakan bahwa mitigasi tidak lagi bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui strategi terpadu yang menggabungkan pengamanan fisik dan pemulihan habitat secara berkelanjutan.
Pengamanan fisik meliputi patroli intensif di zona rawan konflik, pemasangan GPS Collar untuk memantau pergerakan gajah liar, serta pemanfaatan gajah jinak guna menggiring kawanan kembali ke habitat alaminya. Selain itu, TNWK juga bekerja sama dengan Masyarakat Mitra Polhut (MMP), TNI-Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat sekitar kawasan.
Di jangka menengah dan panjang, TNWK memprioritaskan penguatan infrastruktur pengamanan kawasan. Rencana tersebut meliputi pembangunan tanggul dan kanal sepanjang 11 kilometer di wilayah Way Jepara, pagar pengaman 18 kilometer dari Muara Jaya hingga Margahayu, serta Tembok Penahan Tanah (TPT) sepanjang 21 kilometer di jalur lintasan gajah. Selain itu, pembatas permanen di sepanjang sungai alami dengan total panjang mencapai 60 kilometer juga akan dibangun.
Zaidi menegaskan, pembangunan infrastruktur tersebut bertujuan membatasi pergerakan gajah agar tetap berada di dalam kawasan konservasi dan meminimalkan potensi konflik dengan masyarakat. Namun, ia mengingatkan bahwa pendekatan fisik harus dibarengi perbaikan kualitas habitat.
Sejak 2021 hingga 2024, Balai TNWK telah melakukan pemulihan ekosistem seluas 1.286,84 hektare melalui reforestasi, penanaman mangrove, dan penyediaan pakan satwa. Upaya mitigasi konflik gajah ini juga membutuhkan dukungan pembiayaan lintas sektor agar dapat berjalan berkelanjutan dan menjaga kelestarian ekosistem Way Kambas.
Meskipun Nisa viral di media sosial karena tingkah lucunya, penting bagi masyarakat untuk tetap menjaga jarak dan tidak mengganggu satwa liar. Interaksi langsung dengan gajah, terutama yang masih muda, dapat berdampak negatif pada perilaku dan kesejahteraan mereka. Oleh karena itu, TNWK terus berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat dan pengunjung tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan menghormati satwa liar.