
Mabestvnew, Jakarta : Dunia pendidikan Indonesia membutuhkan guru yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki keseimbangan emosional dan spiritual dalam menjalankan tugas mulianya sebagai pendidik bangsa. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Iswadi kepada para wartawan untuk menghadapi tantangan dan masa depan pendidikan Indonesia di era modern.
Menurut Dr. Iswadi, keberhasilan pendidikan tidak dapat hanya diukur dari capaian intelektual peserta didik semata. Pendidikan harus mampu melahirkan manusia yang berkarakter, berintegritas, memiliki empati sosial, serta kesadaran spiritual yang kuat. Oleh sebab itu, guru sebagai ujung tombak pendidikan nasional harus memiliki tiga fondasi utama, yakni kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual.
Kecerdasan intelektual memang penting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan penguasaan ilmu pengetahuan. Namun tanpa kecerdasan emosional dan spiritual, pendidikan akan kehilangan ruh kemanusiaannya, ujar Dr. Iswadi.
Ia menjelaskan bahwa kecerdasan intelektual merupakan kemampuan guru dalam memahami ilmu pengetahuan, mengembangkan metode pembelajaran, serta beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan informasi. Guru di era digital saat ini dituntut untuk terus belajar dan meningkatkan kompetensinya agar mampu menghadirkan pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Namun demikian, Dr. Iswadi menegaskan bahwa kecerdasan intelektual saja tidak cukup untuk membangun generasi bangsa yang unggul. Guru juga harus memiliki kecerdasan emosional agar mampu memahami karakter peserta didik, mengelola emosi, membangun komunikasi yang sehat, serta menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan humanis.
Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pembimbing kehidupan. Ketika seorang guru memiliki empati, kesabaran, dan kemampuan memahami kondisi psikologis siswa, maka proses pendidikan akan berjalan lebih efektif dan menyentuh hati peserta didik, katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Iswadi juga menyoroti pentingnya kecerdasan spiritual dalam dunia pendidikan. Menurutnya, spiritualitas menjadi pondasi moral dan etika yang akan membimbing guru dalam menjalankan profesinya dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan.
Ia mengatakan bahwa guru yang memiliki kecerdasan spiritual akan menjadikan profesinya bukan sekadar pekerjaan, tetapi sebagai bentuk pengabdian kepada bangsa dan kemanusiaan. Nilai-nilai spiritual juga diyakini mampu membangun integritas, kejujuran, disiplin, serta semangat melayani yang sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan saat ini.
Spiritualitas melahirkan ketulusan dalam mendidik. Guru yang bekerja dengan hati akan mampu memberikan inspirasi dan teladan bagi peserta didik. Inilah spirit keilmuan yang sesungguhnya, tambahnya.
Dr. Iswadi menilai bahwa tantangan pendidikan di era globalisasi semakin kompleks. Arus digitalisasi, perubahan sosial, hingga perkembangan kecerdasan buatan telah mengubah pola belajar generasi muda. Oleh karena itu, guru Indonesia harus mampu menyesuaikan diri tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan dan budaya bangsa.
Ia juga mengingatkan bahwa pendidikan karakter harus menjadi prioritas utama di tengah meningkatnya berbagai persoalan sosial di kalangan generasi muda, seperti rendahnya etika komunikasi, krisis moral, hingga menurunnya kepedulian sosial. Dalam konteks ini, guru memiliki peran strategis sebagai agen perubahan yang mampu membentuk karakter bangsa melalui keteladanan dan pendekatan humanis.
Menurut Dr. Iswadi, penguatan tiga kecerdasan tersebut harus dimulai sejak proses pendidikan calon guru di perguruan tinggi. Lembaga pendidikan tenaga kependidikan diharapkan tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga membangun kapasitas emosional dan spiritual mahasiswa calon pendidik.
Pendidikan guru harus melahirkan sosok pendidik yang cerdas secara ilmu, matang secara emosi, dan kuat secara spiritual. Jika ketiga unsur ini berjalan seimbang, maka kualitas pendidikan Indonesia akan semakin maju, jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh elemen pendidikan, mulai dari pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, hingga masyarakat untuk bersama sama menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat dan berorientasi pada pembangunan manusia seutuhnya.
Dr. Iswadi juga menekankan pentingnya penghargaan terhadap profesi guru. Menurutnya, guru adalah pilar utama dalam menciptakan masa depan bangsa. Karena itu, peningkatan kualitas hidup, kesejahteraan, serta pengembangan kompetensi guru harus menjadi perhatian bersama.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai gurunya. Ketika guru diberi ruang untuk berkembang dan dihormati keberadaannya, maka pendidikan akan menjadi kekuatan besar dalam membangun peradaban, ungkapnya.
Pernyataan Dr. Iswadi tersebut mendapat apresiasi dari berbagai kalangan pendidikan. Banyak pihak menilai bahwa konsep keseimbangan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual merupakan pendekatan yang relevan untuk menjawab tantangan pendidikan masa kini.
Di akhir keterangannya, Dr. Iswadi berharap guru Indonesia mampu menjadi sosok inspiratif yang tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, moral, dan spiritual kepada generasi muda.
Guru adalah cahaya peradaban. Ketika guru mampu mengintegrasikan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual dalam dirinya, maka pendidikan Indonesia akan melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia, tutupnya.
Tentang Dr. Iswadi
Dr. Iswadi dikenal sebagai akademisi dan pemerhati pendidikan yang aktif menyuarakan pentingnya pembangunan karakter dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pendidikan berbasis nilai dan kemanusiaan.##






