
Mabestv.Newsz.id, SIDOARJO – Menjelang pemungutan suara Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di Kabupaten Sidoarjo yang dijadwalkan pada 24 Mei 2026, suhu politik di Desa Pabean, Kecamatan Sedati, kian menghangat. Berbagai strategi dan pendekatan dilakukan oleh masing-masing calon kepala desa untuk meraih simpati dan dukungan masyarakat.
Persaingan antar calon di Desa Pabean semakin terasa dalam beberapa hari terakhir. Salah satu yang menjadi sorotan adalah beredarnya pamflet digital melalui pesan singkat WhatsApp yang menampilkan surat suara dengan foto dan nama yang diduga calon kepala desa nomor urut 4, Iswahyudi.
Pamflet tersebut beredar luas di kalangan warga dan disebut-sebut diduga disebarkan oleh tim sukses calon kepala desa nomor urut 4 untuk mendata warga RT 52.
Dalam pesan tersebut, warga diminta menyatakan dukungan kepada calon nomor urut 4 dengan mengisi sejumlah data pribadi, mulai dari nama lengkap, alamat, Nomor Induk Kependudukan (NIK), hingga nomor telepon/WhatsApp. Bahkan disebutkan bahwa dalam satu rumah dapat mengisi data lebih dari satu orang dan diminta mengirimkan kembali data tersebut setelah diisi.
Beredarnya pamflet itu memicu reaksi dari calon kepala desa lainnya. Sukirman, calon kepala desa nomor urut 2, saat dikonfirmasi melalui sambungan WhatsApp pada 30 April 2026, menyampaikan keberatannya atas dugaan pendataan dukungan yang disertai permintaan data pribadi warga.
“Belum waktunya kampanye, ini tidak fair. Kami sebagai calon merasa dirugikan, padahal jadwal kampanye belum dilaksanakan. Terus dengan menyantumkan NIK artinya apa? Bisa-bisa nanti akan ada money politik,” ujarnya.
Pria yang biasa dipanggil Bayan Kirman tersebut mengaku pertama kali mengetahui adanya pamflet itu setelah ditunjukkan oleh salah satu anggota panitia saat dirinya turun dari mushola. Menurutnya, jika benar terdapat permintaan data pribadi seperti NIK dalam konteks dukungan politik, hal tersebut patut dipertanyakan dari sisi etika maupun aturan yang berlaku.
“Kalau memang itu dilakukan, jelas sudah melanggar aturan dan ada unsur permainan. Saya sebagai salah satu calon tentu tidak bisa menerima,” tegasnya.
Sejumlah warga juga mengaku merasa tidak nyaman dengan adanya permintaan data pribadi yang cukup sensitif. Mereka khawatir data tersebut dapat disalahgunakan atau dikaitkan dengan praktik politik uang.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak calon nomor urut 4 maupun tim suksesnya terkait dugaan penyebaran pamflet tersebut. Masyarakat berharap panitia Pilkades segera memberikan penjelasan dan mengambil langkah tegas agar situasi tetap kondusif menjelang hari pemungutan suara.(Imam/edy)







