
Mabestvnews, Jakarta : Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyinggung fenomena bangsa kepiting dinilai menjadi refleksi penting bagi seluruh jajaran pemerintahan. Akademisi dan pengamat kebijakan publik Dr. Iswadi mengatakan bahwa pesan tersebut bukan sekadar kritik terhadap budaya saling menjatuhkan, tetapi juga seruan untuk membangun karakter baru dalam birokrasi dan kepemimpinan nasional. Menurutnya, Indonesia membutuhkan semangat bangsa lebah sebagai antitesis dari budaya bangsa kepiting
Dr. Iswadi menjelaskan bahwa lebah merupakan simbol kerja keras, disiplin, kolaborasi, dan produktivitas. Dalam sebuah koloni, setiap lebah memiliki tugas yang jelas, bekerja tanpa saling menjatuhkan, serta berorientasi pada tujuan bersama. Nilai nilai inilah yang dinilai sangat relevan dengan kebutuhan pemerintahan saat ini.
Jika bangsa kepiting menggambarkan budaya saling menarik ke bawah, maka bangsa lebah mencerminkan budaya saling menguatkan, bekerja sama, dan menghasilkan manfaat bagi banyak orang. Semangat seperti inilah yang dibutuhkan Presiden Prabowo untuk mempercepat pelaksanaan program-program prioritas nasional, ujar Dr. Iswadi.
Menurutnya, pemerintahan Prabowo menghadapi tantangan besar dalam merealisasikan berbagai janji kampanye, mulai dari penguatan ketahanan pangan, penciptaan lapangan kerja, hilirisasi industri, peningkatan kualitas pendidikan, pemerataan pembangunan, hingga percepatan pertumbuhan ekonomi. Seluruh agenda tersebut hanya dapat diwujudkan apabila seluruh jajaran kabinet memiliki semangat kerja kolektif yang kuat.
Karena itu, Dr. Iswadi menilai evaluasi terhadap kinerja para menteri perlu dilakukan secara objektif dan berkelanjutan. Apabila terdapat pembantu Presiden yang tidak mampu bekerja cepat, kurang mampu berkolaborasi, atau tidak menunjukkan capaian yang sejalan dengan target pemerintah, maka reshuffle kabinet merupakan langkah yang wajar dalam rangka memperkuat efektivitas pemerintahan.
Presiden membutuhkan tim yang bergerak dalam frekuensi yang sama. Visi besar tidak akan tercapai apabila masih ada ego sektoral, rivalitas yang tidak produktif, atau budaya saling menghambat. Yang dibutuhkan adalah semangat bangsa lebah, yakni bekerja bersama demi menghasilkan manfaat bagi rakyat, tegasnya.
Dr. Iswadi menambahkan bahwa budaya kerja yang dibangun Presiden harus berorientasi pada hasil (result oriented), pelayanan publik, inovasi, dan akuntabilitas. Setiap kementerian dan lembaga dituntut mampu meninggalkan pola kerja birokratis yang lambat dan menggantinya dengan tata kelola yang cepat, adaptif, dan kolaboratif.
Menurutnya, semangat bangsa lebah juga mencerminkan kepemimpinan yang saling mendukung antarkementerian. Tidak ada ruang bagi persaingan yang justru menghambat pelaksanaan program strategis nasional. Sebaliknya, keberhasilan satu kementerian harus menjadi keberhasilan bersama dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Lebah tidak menghasilkan madu untuk dirinya sendiri. Hasil kerjanya memberikan manfaat bagi ekosistem secara keseluruhan. Filosofi ini sangat relevan dengan pemerintahan yang menempatkan kepentingan rakyat sebagai tujuan utama setiap kebijakan, katanya.
Lebih lanjut, Dr. Iswadi mengajak seluruh aparatur negara menjadikan pesan Presiden sebagai momentum introspeksi untuk memperbaiki etos kerja dan memperkuat sinergi lintas sektor. Ia menilai bahwa keberhasilan pemerintahan lima tahun ke depan sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia di dalam kabinet serta kemampuan membangun budaya organisasi yang sehat.
Reshuffle kabinet apabila diperlukan bukanlah bentuk hukuman, melainkan strategi untuk memastikan seluruh mesin pemerintahan bekerja secara optimal. Yang dipertahankan adalah mereka yang mampu menunjukkan loyalitas, kompetensi, integritas, dan hasil kerja nyata sesuai dengan visi Presiden, ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Dr. Iswadi menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan perubahan paradigma dari budaya saling menjatuhkan menuju budaya saling memberdayakan. Menurutnya, hanya dengan semangat “bangsa lebah” pemerintahan Presiden Prabowo dapat mempercepat realisasi program prioritas, memenuhi janji-janji kampanye, serta meletakkan fondasi yang kokoh bagi Indonesia yang maju, mandiri, dan sejahtera.
Bangsa kepiting harus menjadi alarm bagi kita semua, sedangkan bangsa lebah harus menjadi inspirasi. Ketika seluruh jajaran pemerintahan bekerja dengan disiplin, saling mendukung, dan fokus pada kepentingan rakyat, maka visi besar Presiden Prabowo untuk membawa Indonesia melompat lebih maju akan lebih cepat terwujud, tutup Dr. Iswadi.##






