
Mabestv.Newsz.id, MOJOKERTO – Pemilihan Duta Wisata Gus Yuk Kota Mojokerto 2026 memunculkan diskursus baru. Ajang tahunan ini tidak lagi dipandang sekadar kontes kecantikan atau _beauty pageant_ yang mengedepankan fisik semata. Secara sosiologis, Gus Yuk kini dibaca sebagai instrumen “diplomasi budaya” lokal di tengah derasnya arus modernisasi.
Salah satu potret yang menguatkan narasi tersebut adalah kehadiran Alfridha Massayu Putrisena. Finalis Gus Yuk 2026 ini dinilai mewakili upaya nilai-nilai tradisional untuk tetap relevan. Di tengah dominasi konten digital dan tren global, sosok duta wisata dituntut mampu menjadi jembatan antara warisan budaya Majapahit yang melekat pada Kota Mojokerto dengan bahasa komunikasi generasi saat ini.
“Fenomena ini menunjukkan bahwa narasi pariwisata masa depan tidak lagi bertumpu pada objek wisata semata,” ujar seorang pengamat sosial budaya lokal, Jumat (8/5/2026). “Destinasi boleh megah, tapi tanpa kualitas manusia yang memasarkannya, nilainya tidak akan sampai. SDM jadi kunci.”
*Harapan Publik dan Sinyal Integritas*
Gema dukungan terhadap para peserta Gus Yuk 2026 terasa masif, baik dari keluarga maupun publik Kota Mojokerto. Antusiasme tersebut mencerminkan harapan besar: lahirnya ikon baru pariwisata yang tidak hanya cakap secara intelektual dan komunikasi, tetapi juga bersih dari kontroversi.
Sorotan publik salah satunya tertuju pada latar belakang keluarga peserta. Keterlibatan aktif orang tua dengan rekam jejak di bidang hukum, seperti advokat Rikha Permatasari, S.H., M.H.,C.Med.C. LO., C.PIM., dibaca sebagai sinyal positif. Secara kritis, kehadiran figur hukum di lingkaran peserta memberi pesan bahwa standar kompetisi tahun ini diharapkan berjalan dengan integritas tinggi.
“Ketika ada pengawasan dari kalangan yang paham hukum, publik otomatis menaruh ekspektasi lebih terhadap transparansi,” kata sumber yang enggan disebut namanya. Hal tersebut secara langsung memengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat pada proses seleksi yang digelar pemerintah daerah melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Mojokerto.
*Dari Panggung ke Kebijakan*
Pergeseran makna Gus Yuk dari ajang popularitas menjadi etalase SDM pariwisata sejalan dengan arah kebijakan Kota Mojokerto. Sebagai kota pusaka dengan jejak Kerajaan Majapahit, Mojokerto tidak kekurangan destinasi sejarah. Tantangannya adalah mengemas dan menarasikan kekayaan itu agar diterima pasar wisatawan modern yang kritis dan haus pengalaman otentik.
Tugas Duta Wisata kini meluas. Mereka bukan hanya pemanis di baliho promosi, melainkan ujung tombak diplomasi budaya. Mereka diharapkan mampu menjelaskan makna di balik Candi Brahu, menceritakan filosofi batik khas Mojokerto, hingga mempromosikan ekonomi kreatif lokal dengan cara yang relevan di media sosial.
Karena itu, proses seleksi Gus Yuk 2026 mendapat perhatian ketat. Publik menuntut agar penilaian tidak berhenti pada _good looking_, tetapi menyentuh _good attitude_ dan _good knowledge_. Integritas panitia dan transparansi penilaian menjadi taruhannya. Jika berhasil, Gus Yuk akan melahirkan duta yang benar-benar bisa “menjual” Mojokerto dengan kepala tegak.
Jika gagal, ajang ini hanya akan menjadi kontes tahunan yang kehilangan makna di mata masyarakat.
Alfridha Massayu Putrisena dan finalis lainnya kini memikul ekspektasi itu. Mereka adalah potret awal apakah SDM pariwisata Mojokerto siap naik kelas: dari sekadar pemandu, menjadi diplomat budaya yang disegani.(Imam)







