Pada Rabu (1/10/2025), sejumlah keluarga korban Tragedi Kanjuruhan kembali menyuarakan tuntutan keadilan di depan Kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) di Jakarta. Aksi ini digelar dalam rangka peringatan tiga tahun tragedi kelam di Stadion Kanjuruhan, Malang, yang merenggut nyawa lebih dari 135 orang pada 1 Oktober 2022. Para ibu dan kerabat korban berdiri dengan tegar sambil memegang poster hitam putih yang menampilkan potret wajah anak-anak mereka yang menjadi korban.
Kronologi Kejadian
Tragedi Kanjuruhan terjadi pada malam pertandingan antara Arema FC dan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur. Saat pertandingan berlangsung, para suporter Arema FC mengalami kemacetan di luar stadion setelah pihak keamanan menutup akses keluar. Akibatnya, ratusan penonton terjebak di dalam stadion dan terpaksa melompat ke bawah tribun untuk mencari jalan keluar. Dalam kekacauan tersebut, gas air mata ditembakkan ke arah penonton, menyebabkan banyak korban meninggal akibat sesak napas dan cedera parah.
Unsur KKN yang Dipermasalahkan
Dalam kasus ini, beberapa indikasi korupsi, kolusi, dan nepotisme muncul. Proses hukum yang dilakukan oleh aparat kepolisian dinilai tidak transparan dan penuh kejanggalan. Beberapa keluarga korban menyatakan bahwa ada indikasi intimidasi selama persidangan serta keputusan restitusi yang tidak adil. Contohnya, jumlah uang yang diberikan kepada keluarga korban dinilai sangat rendah, hanya Rp 10 juta untuk korban meninggal dan Rp 5 juta untuk korban luka ringan. Hal ini dianggap melukai rasa keadilan.
Reaksi Publik & Media Sosial
Aksi keluarga korban Kanjuruhan mendapat dukungan luas dari masyarakat dan aktivis hak asasi manusia. Banyak komentar viral di media sosial yang mengecam lambannya proses hukum dan ketidakadilan yang dialami korban. Tagar seperti #JusticeForThe135 dan #KanjuruhanTetapDiingat menjadi tren di berbagai platform. Mereka menuntut agar tragedi ini ditetapkan sebagai pelanggaran HAM berat dan agar proses hukum dilakukan secara transparan dan adil.
Pernyataan Resmi
Komnas HAM dan lembaga lainnya telah memberikan pernyataan resmi mengenai kasus ini. Ketua Komnas HAM, Anis Hidayah, menyatakan bahwa pihaknya sedang melakukan penyelidikan pro yustisia atas kematian korban. Namun, banyak keluarga korban merasa tidak puas dengan respons yang diberikan. Mereka menuntut agar Komnas HAM lebih aktif dalam menuntaskan kasus ini dan memastikan keadilan bagi semua pihak yang terlibat.
Dampak & Implikasi
Kasus Tragedi Kanjuruhan memiliki dampak besar pada kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian dan sistem hukum di Indonesia. Banyak masyarakat merasa bahwa proses hukum tidak berjalan dengan baik dan bahwa ada upaya untuk menutupi fakta-fakta penting. Selain itu, kasus ini juga memicu diskusi tentang reformasi kepolisian dan perlunya peningkatan pengawasan terhadap penggunaan alat kekerasan dalam pengamanan aksi unjuk rasa.
Penutup
Hingga saat ini, status terbaru dari kasus Tragedi Kanjuruhan masih dalam proses penyelidikan. Keluarga korban tetap menantikan tindakan tegas dari pihak berwenang untuk memastikan keadilan bagi 135 korban. Mereka berharap agar kasus ini tidak lagi terulang dan bahwa setiap kekerasan yang dilakukan oleh aparat akan diproses secara hukum. Dengan dukungan dari masyarakat dan aktivis, perjuangan menuntut keadilan bagi korban Kanjuruhan tetap berjalan.

