
Mabestvnews, Jakarta : Akademisi dan pengamat pendidikan, Dr. Iswadi, mengungkapkan bahwa dunia pendidikan Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan besar yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan. Meskipun berbagai program reformasi dan transformasi pendidikan telah dijalankan dalam beberapa tahun terakhir, berbagai persoalan mendasar dinilai masih menjadi hambatan dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas, merata, dan mampu menjawab kebutuhan zaman.
Menurut Dr. Iswadi, pendidikan merupakan sektor strategis yang menentukan kualitas sumber daya manusia dan masa depan bangsa. Oleh karena itu, berbagai permasalahan yang masih terjadi harus segera ditangani melalui kebijakan yang tepat, berkelanjutan, dan berorientasi pada kebutuhan nyata masyarakat.
Salah satu tantangan utama yang masih dihadapi Indonesia pada tahun 2026 adalah ketimpangan kualitas pendidikan antarwilayah. Hingga saat ini, masih banyak sekolah di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana, kekurangan tenaga pendidik, serta minimnya akses terhadap teknologi pembelajaran. Kondisi tersebut menyebabkan kesenjangan kualitas pendidikan antara daerah perkotaan dan wilayah terpencil masih cukup tinggi.
Pemerataan akses dan kualitas pendidikan harus menjadi prioritas nasional. Setiap anak Indonesia berhak mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas tanpa memandang lokasi tempat tinggalnya, ujar Dr. Iswadi.
Selain persoalan pemerataan, kesejahteraan guru juga masih menjadi isu yang memerlukan perhatian lebih besar. Menurutnya, guru merupakan ujung tombak pendidikan yang memiliki peran penting dalam membentuk generasi masa depan. Namun, masih terdapat banyak tenaga pendidik yang menghadapi berbagai kendala terkait kesejahteraan, status kepegawaian, serta perlindungan profesi.
Dr. Iswadi menilai bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak akan berjalan optimal apabila kesejahteraan guru belum sepenuhnya terjamin. Karena itu, pemerintah perlu terus memperkuat kebijakan yang memberikan kepastian karier, perlindungan hukum, dan peningkatan kesejahteraan bagi para pendidik di seluruh Indonesia.
Tantangan berikutnya adalah digitalisasi pendidikan yang belum merata. Meskipun teknologi semakin berkembang dan telah menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran, masih banyak sekolah yang menghadapi keterbatasan akses internet, perangkat teknologi, dan kemampuan digital sumber daya manusia. Akibatnya, pemanfaatan teknologi pendidikan belum dapat dirasakan secara optimal oleh seluruh peserta didik.
Menurut Dr. Iswadi, transformasi digital harus dibarengi dengan pembangunan infrastruktur yang memadai serta peningkatan literasi digital bagi guru dan siswa. Tanpa langkah tersebut, kesenjangan pendidikan justru berpotensi semakin melebar di era digital.
Ia juga menyoroti pentingnya penyesuaian sistem pendidikan terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja masa depan. Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), otomatisasi, dan digitalisasi telah mengubah berbagai sektor pekerjaan. Oleh karena itu, sistem pendidikan harus mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan kemampuan memecahkan masalah.
Menurut Dr. Iswadi, masih terdapat kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia industri yang terus berkembang. Karena itu, diperlukan penguatan pendidikan vokasi, peningkatan pelatihan keterampilan, serta kolaborasi yang lebih erat antara lembaga pendidikan dan dunia usaha agar lulusan memiliki daya saing yang lebih tinggi.
Selain aspek kompetensi, kualitas pembelajaran juga menjadi perhatian. Dr. Iswadi menilai bahwa proses pendidikan seharusnya tidak hanya berfokus pada pencapaian nilai akademik, tetapi juga pada kemampuan memahami, menganalisis, dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan nyata. Pendidikan harus mampu mendorong peserta didik menjadi individu yang aktif, kreatif, dan mampu beradaptasi terhadap perubahan.
Di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi yang semakin cepat, penguatan pendidikan karakter juga dinilai sangat penting. Menurutnya, sekolah tidak hanya bertugas mencetak generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga harus membangun karakter yang kuat, integritas, tanggung jawab, etika, dan semangat kebangsaan.
Pendidikan karakter harus berjalan seiring dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bangsa yang maju bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan warganya, tetapi juga oleh kualitas moral dan karakter generasi mudanya, jelasnya.
Dr. Iswadi juga menyoroti pentingnya efektivitas pengelolaan anggaran pendidikan. Besarnya alokasi dana pendidikan harus diikuti dengan tata kelola yang transparan, akuntabel, dan tepat sasaran. Ia menegaskan bahwa setiap anggaran yang dialokasikan harus memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas pembelajaran, kesejahteraan guru, serta pemerataan akses pendidikan.
Sebagai solusi, Dr. Iswadi mendorong lahirnya kebijakan pendidikan yang lebih terintegrasi, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan masa depan. Ia juga mengajak seluruh pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dunia usaha, hingga masyarakat untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun ekosistem pendidikan yang lebih inklusif dan berkualitas.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak dapat dicapai oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kerja sama yang kuat dan komitmen bersama agar setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan meraih masa depan yang lebih baik.
Menutup pernyataannya, Dr. Iswadi menegaskan bahwa tahun 2026 harus menjadi momentum untuk mempercepat transformasi pendidikan nasional. Dengan pembenahan yang berkelanjutan, pemerataan akses, peningkatan kualitas guru, penguatan karakter, serta pemanfaatan teknologi yang tepat, Indonesia diyakini mampu menciptakan generasi unggul yang siap menghadapi tantangan global.
Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang menentukan masa depan bangsa. Karena itu, seluruh tantangan yang masih ada harus dijawab dengan inovasi, komitmen, dan kerja sama dari semua pihak demi terwujudnya pendidikan Indonesia yang maju dan berdaya saing, tutup Dr. Iswadi.##







