Mabestvnews, Bireuen – Produksi Garam di Jangka, Tanoh Anoe Kecamatan Jangka Kabupaten Bireuen merupakan penghasil garam terbesar di Aceh.
Puluhan warga masyarakat Gampong (Desa) Tanoh Anoe Kecamatan Jangka Kabupaten Bireuen profesinya adalah petani garam.
Tgk Zamri, warga Gampong Tanoh Anoe, dan Tgk Zulkarnaini mengatakan kepada media ini, Sabtu 4-4 2026, hasil garam produksi dari gampong Tanoh Anoe pemasarannya juga sampai ke Provinsi Aceh.
Namun Kata Zulkarnaini pihak petani garam kekurangan modal dan dalam kaitan tersebut para petani akan membuat permohonan bantuan modal usaha ke Pemerintah Kabupaten Bireuen.
“Dijelaskan, Garam dapur produksi Gampong Tanoh Anoe dalam memproduksinya pertama membuat masak air bibit garam dan tempat plat besi yang sering dipakai buat dinding dengan ukuran 3×4 meter.
Setelah air sumur yang segaja di gali dekat gubuk atau dapur garam seluas 5 x 7 meter harus ditutup dengan atap Rumbia atau seng yang sengaja dibangun untuk memasak air garam dengan memakai kayu bakar sekitar enam jam.
Satu dapur dapat menghasilkan sekitar lima puluh kilogram garam namun bila ditekuni dan dibuat serius ibu rumah tangga petani garam dapur bisa memperoleh penghasilan Rp 160.000 perhari namun sudah sangat maksimal.
Sementara itu terkait tenaga kerja menurut salah seorang ibu rumah tangga di sana yaitu ibu Jamaliah yang juga pengrajin garam menyebutkan,bisa meningkat penghasilan ekonomi mereka, biaya hidup dan sekolah anak-anaknya mulai jenjang pendidikan dasar sampai perguruan tinggi,dan biaya hidup sehari harinya sebab pedagang langsung mengambil garam siap panen ke tempat pemilik dapur garam dan para pedagang memasarkan garam produksi Garam Jangka mampu menguasai Kabupaten kota di Provinsi Aceh, yaitu kabupaten, Aceh Tengah, Bener meriah, Sigli, Pidie jaya, Bireuen, Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe.
tentang bantuan dari Pemerintah Kabupaten Bireuen atau Provinsi Aceh, mereka menyebut ada bantuan seusai terjadi musibah tsunami, berupa sejumlah pembuatan ala kadar gubuk, tetapi setelah itu sampai sekarang belum ada, apalagi pelatihan dan pembinaan untuk petani garam.
Camat Kecamatan Jangka Muliyadi yang ingin dikonfirmasi terkait masalah petani garam belum bertemu, namun menurut stafnya semua petani garam sudah terdata.
Menurut staf kantor Camat, ratusan pengrajin garam dapur itu perlu ada bantuan. Yang pasti demi untuk memberdayakan ekonomi dalam upaya kesejahteraan agar mereka terus meningkatkan memproduksi garam dapur dengan adanya perubahan.
Dari hasil pembicaraan dengan para petani garam terungkap bahwa ratusan Petani pengrajin garam dapur secara tradisional di Desa Tanoh Anoe itu sangat membutuhkan bantuan dari Pemerintah baik itu Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Provinsi Aceh dan Pemerintah Kabupaten Bireuen.
Pengrajin garam dapur di Tanoh Anoe sudah berprofesi puluhan tahun dengan cara tradisonal secara turun temurun (Warisan endatu) dan mereka sangat membutuhkan Pendidikan dan pelatihan serta pembinaan agar ada perubahan.
Terkait masalah tersebut mereka menanti uluran tangan dari Pemerintah agar usaha pembuatan garam dapur dengan sistem dimasak perlu permodalalan dan pembinaan.
Jamilah menyebut, mereka terkendala modal usaha dan andaipun Pemerintah mau membantu usaha mereka berupa penambahan modal kerja, untuk membuat gubuk ukuran 8 x7 meter, yang kini kondisi bangunan lama sudah banyak rusak dimakan usia karena ada yang rumbia.
Selain itu untuk memasak air dan bibit garam, ditempatkan yang dibuat dari plat besi ukuran 1,5 x 1,7 meter, untuk dapat memasak sekitar lima puluh kilogram garam.##