Pasukan Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang akan dikirim oleh TNI kembali menjadi perhatian utama setelah Panglima TNI, Jenderal Agus Subiyanto, mengungkapkan rencana terbaru dalam pengiriman pasukan tersebut. Rencana ini dilakukan sebagai bagian dari komitmen Indonesia untuk menjaga perdamaian global sesuai dengan amanat konstitusi.
Dalam sebuah rapat tertutup dengan Komisi I DPR RI di Jakarta, Jenderal Agus Subiyanto menjelaskan bahwa proses seleksi pasukan telah selesai. “Untuk kontingen pasukan pemelihara perdamaian sudah tahap seleksi. Kemudian rencana nanti dipimpin oleh jenderal bintang 3,” ujarnya. Ini menunjukkan bahwa TNI sedang mempersiapkan pasukan dengan tingkat kepemimpinan yang sangat tinggi, sehingga mampu menghadapi tantangan di wilayah konflik seperti Gaza, Palestina.
Selain itu, TNI juga menyatakan bahwa pasukan yang akan dikirim akan terdiri dari Brigade Komposit yang mencakup berbagai jenis satuan. “Nanti di bawah brigade komposit itu terdiri dari satu Batalyon Kesehatan, satu Batalyon Zeni Konstruksi, kemudian Batalyon Bantuan, dan ada lagi Bantuan Mekanis,” tambahnya. Selain itu, TNI juga menyiapkan helikopter hingga kapal rumah sakit dari Angkatan Laut.
Menhan Sjafrie Sjamsoeddin juga menyampaikan bahwa pemerintah sedang mempersiapkan kontingen untuk dikirim ke PBB. Hal ini sesuai dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto. “Kami telah menerima perintah persiapan dari Bapak Presiden untuk mempersiapkan Pasukan Pemeliharaan Perdamaian di bawah PBB,” ujar Menhan. Dengan demikian, TNI tidak hanya siap secara teknis tetapi juga memiliki dukungan politik dari pemerintah.
Diketahui, pemerintah berencana mengirim sebanyak 20 ribu pasukan perdamaian ke Gaza. TNI memastikan personelnya siap memenuhi perintah tersebut dan telah melakukan pelatihan sesuai dengan keahlian yang dibutuhkan nanti. “Terkait kesiapan 20 ribu prajurit dan latihan. Angka 20 ribu adalah kapasitas kekuatan TNI yang telah disiapkan dalam kerangka dukungan perdamaian dan kemanusiaan,” ujar Kapuspen TNI Mayjen Freddy Ardianzah.
Namun, meskipun TNI siap secara teknis, proses pengiriman pasukan harus melalui mekanisme PBB dan persetujuan dari pemerintah Indonesia. “Prosesnya melibatkan keputusan politik negara, koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri, serta mandat resmi dari PBB,” ungkap Freddy. Ini menunjukkan bahwa TNI tidak hanya fokus pada operasional, tetapi juga memperhatikan aspek legal dan diplomatik.

Selain itu, TNI juga tengah mempersiapkan pasukan untuk tugas operasi pengamanan perbatasan wilayah Republik Indonesia Papua Nugini (RI-PNG). Wakil Asisten Operasi (Waasops) Panglima TNI Laksma TNI Harjo Susmoro melakukan pemeriksaan terakhir tentang kesiapan Batalyon Infanteri Para Raider 330/Tri Dharma Kostrad. Dalam kunjungan tersebut, Waasops menekankan pentingnya menjaga kehormatan satuan, TNI, dan kehormatan Negara selama bertugas.
Presiden Prabowo Subianto juga menegaskan komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia. Dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB ke-80, ia menyebut Indonesia siap menanggung beban bersama dalam menjaga stabilitas global. “Kami akan mengambil bagian dalam beban itu, bukan hanya dengan putra-putri kami. Kami juga bersedia berkontribusi secara finansial untuk mendukung misi besar PBB dalam mencapai perdamaian,” ucapnya.
Dengan adanya komitmen dari pemerintah dan persiapan yang matang dari TNI, pasukan perdamaian PBB yang akan dikirim oleh Indonesia diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perdamaian global. TNI tetap siap melaksanakan tugasnya dengan profesional dan proporsional, sesuai dengan standar nasional dan internasional.