Proses Penyelamatan Pendaki yang Hilang di Gunung Slamet: Langkah-Langkah dan Pelajaran yang Dipetik
Gunung Slamet, salah satu gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.428 meter di atas permukaan laut (mdpl), dikenal sebagai tempat yang menantang bagi para pendaki. Tidak hanya karena medannya yang ekstrem, tetapi juga karena cuaca yang bisa berubah secara tiba-tiba. Di balik keindahannya, Gunung Slamet memiliki risiko yang sangat tinggi, terutama bagi pendaki yang tidak mempersiapkan diri dengan baik.
Pada hari Kamis (13/11/2025), sebuah operasi penyelamatan dilakukan setelah seorang pendaki perempuan bernama Muthmainnah (24 tahun) dilaporkan tersesat di kawasan Gunung Slamet jalur Dipajaya, Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang. Operasi ini melibatkan banyak pihak, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purbalingga, Basarnas, dan tim SAR lainnya.
Muthmainnah awalnya tiba di Basecamp Dipajaya sekitar pukul 01.00 WIB. Ia rencananya melakukan pendakian “tektok” sendirian. Namun, karena tidak sesuai dengan prosedur, petugas basecamp meminta dia bergabung dengan dua pendaki lain asal Riau dan Makassar. Ketiganya kemudian melanjutkan pendakian bersama menuju puncak. Sayangnya, sekitar pukul 13.30 WIB, Muthmainnah tersesat dan tidak lagi bersama rombongannya. Ia terakhir kali memberi informasi bahwa ia berada di area Pos 9 Pelawangan, salah satu titik yang cukup ekstrem di jalur tersebut.
Dengan laporan tersebut, Basarnas langsung mengaktifkan operasi SAR dan menghubungi unsur BPBD untuk memperkuat pencarian. Tim gabungan segera melakukan koordinasi lintas jalur dan menyisir area yang dilaporkan. Upaya pencarian dilakukan dengan membagi personel ke dalam dua SRU (Satuan Rescue Unit). Tim pertama berjumlah 11 orang berangkat lebih awal, disusul tim kedua sebanyak 5 orang.
Setelah beberapa jam penyisiran, pendaki akhirnya berhasil ditemukan dan dievakuasi turun menuju Basecamp Dipajaya. Ia tiba pada pukul 21.30 WIB dalam keadaan selamat tanpa luka serius, hanya kelelahan setelah lama berada di jalur.
Operasi SAR ini menunjukkan betapa pentingnya persiapan dan kesadaran akan keselamatan saat mendaki. Dalam kasus ini, Muthmainnah berhasil diselamatkan berkat kerja sama yang cepat dan koordinasi yang baik antara berbagai pihak. Namun, tidak semua cerita berakhir dengan bahagia. Sebelumnya, ada kasus tragis yang melibatkan Syafiq Ridhan Ali Razan, seorang pelajar asal Magelang yang hilang selama 17 hari di jalur Dipajaya. Ia akhirnya ditemukan meninggal dunia di lokasi yang jauh dari jalur resmi, diduga karena tersesat saat mencoba mencari jalan turun di tengah kabut.
Kasus-kasus seperti ini menjadi pengingat keras bahwa Gunung Slamet tidak pernah memberi toleransi pada kesalahan sekecil apa pun. Jalur Dipajaya memiliki karakteristik vegetasi yang rapat di bagian bawah, namun berubah menjadi hamparan terbuka dan pasir saat mendekati puncak. Masalah utama bagi pendaki di jalur ini adalah “kabut putih” yang menyebabkan disorientasi arah total serta percabangan jalur yang sering membingungkan.
Dalam prosedur keselamatan pendakian internasional, aturan baku adalah “Never separate the group”. Ketika Syafiq meninggalkan temannya yang cedera, risiko keselamatan keduanya meningkat dua kali lipat. Hal ini juga menjadi pelajaran penting bagi para pendaki, terutama yang melakukan pendakian tektok. Bagi pemula, sangat disarankan untuk berkemah daripada melakukan pendakian dalam satu hari.
Manajemen risiko dan kesadaran akan keselamatan harus menjadi prioritas bagi setiap pendaki. Jika terjebak dalam kondisi tersesat, langkah-langkah STOP (Sit, Think, Observe, Plan) harus dilakukan. Duduk dan tenang, berpikir jernih, amati tanda-tanda alam, dan buat rencana untuk bertahan hidup.
Tragedi Syafiq di Gunung Slamet adalah duka bagi kita semua, namun kisah ini tidak boleh berlalu tanpa makna. Pendidikan mengenai keselamatan pendakian harus menjadi prioritas bagi setiap pendaki, baik pemula maupun senior. Gunung adalah guru yang keras, ia memberikan ujian terlebih dahulu, baru kemudian memberikan pelajaran.