Pada bulan Februari 2026, sebuah peristiwa yang menggemparkan masyarakat Indonesia terjadi di wilayah Papua. Serangan mendadak oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) terhadap pos keamanan perusahaan tambang PT Kristalin Eka Lestari di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, menewaskan dua orang, termasuk seorang prajurit TNI asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, yaitu Serda Hamdani.
Insiden ini tidak hanya menyebabkan korban jiwa, tetapi juga memicu respons cepat dari aparat keamanan. Pasukan bersenjata lengkap langsung diterjunkan untuk mengamankan lokasi kejadian di Kampung Legari, Distrik Makimi. Peristiwa ini menjadi perhatian besar bagi masyarakat dan pihak berwenang, karena menunjukkan kembali adanya ancaman serius terhadap stabilitas di wilayah tersebut.
Serda Hamdani, anggota Deninteldam XVII/Cenderawasih, dikenal sebagai prajurit yang bertanggung jawab dan baik. Orang tua korban, Hamka, mengungkapkan bahwa komunikasi terakhir dengan almarhum terjadi pada pertengahan Februari 2026, saat itu almarhum mengirimkan uang untuk persiapan kebutuhan bulan Ramadan. “Almarhum orang yang baik dan bertanggung jawab. Kami terakhir bicara saat dia kirim uang buat puasa,” ujar Hamka dengan nada lirih.
Diketahui, Serda Hamdani telah bertugas di Papua sejak tahun 2024. Sebelumnya, ia pernah berdinas di Batalyon 726 Bone dan menjadi Babinsa di Kabupaten Soppeng. Almarhum meninggalkan seorang istri dan dua anak yang masih kecil. Rencananya, jenazah Serda Hamdani akan dimakamkan secara militer di kampung halamannya sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian terakhirnya kepada NKRI.

Selain Serda Hamdani, satu korban lainnya adalah Aksay Sandika Moho, petugas keamanan perusahaan. Serangan bermula saat kelompok bersenjata diduga memberondong kendaraan milik subkontraktor yang melintas di sekitar pos. Tidak berhenti di situ, pelaku kemudian menyerang pos keamanan hingga menghanguskan bangunan tersebut. Dalam rekaman video amatir, terlihat bangunan pos milik PT Kristalin Eka Lestari sudah dalam kondisi rata dengan tanah akibat terbakar.
Pasca-insiden, petugas berupaya memadamkan sisa-sisa api sebelum mengevakuasi para korban. Selain menimbulkan korban jiwa, kelompok penyerang juga dilaporkan membawa kabur sejumlah inventaris keamanan, termasuk senjata api jenis Pistol G2 Combat, magazen, dan 10 butir amunisi kaliber 9 milimeter.
Peristiwa ini menunjukkan kembali adanya ancaman serius terhadap stabilitas di Papua. Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Letnan Kolonel Arm Reza Nur Patria menyampaikan bahwa penembakan tersebut menunjukkan bahwa kelompok ini tidak menginginkan adanya peningkatan perekonomian bagi masyarakat Papua dengan aksi-aksi penyerangan dan teror yang kerap kali dilakukan bukan hanya kepada aparat TNI Polri namun juga masyarakat lainnya.
Konflik bersenjata antara aparat TNI/Polri dengan kelompok bersenjata di Papua terus terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Dalam pernyataannya saat fit and proper test Panglima TNI di DPR, Jenderal Andika Perkasa mengatakan akan mengubah pola perang di wilayah paling timur tersebut.
Insiden ini menjadi peringatan bahwa ancaman terhadap keamanan dan stabilitas di Papua masih sangat nyata. Diperlukan upaya yang lebih intensif dan kolaboratif dari berbagai pihak untuk menciptakan perdamaian dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat di wilayah tersebut.