
Mabestvnews, Jakarta : Pernyataan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang menyinggung fenomena bangsa kepiting kembali menjadi perhatian publik. Istilah tersebut menggambarkan perilaku sebagian masyarakat yang cenderung saling menjatuhkan, menghambat kemajuan sesama, serta sulit memberikan apresiasi terhadap keberhasilan orang lain. Menanggapi hal tersebut, akademisi dan pengamat sosial Dr. Iswadi menilai bahwa pernyataan tersebut merupakan kritik sosial yang patut dijadikan bahan refleksi bersama dalam membangun karakter bangsa yang lebih produktif dan berdaya saing.
Menurut Dr. Iswadi, fenomena bangsa kepiting bukan sekadar istilah retoris, melainkan gambaran nyata yang masih ditemukan dalam berbagai aspek kehidupan, baik di lingkungan sosial, birokrasi, dunia pendidikan, maupun sektor ekonomi. Budaya saling menjatuhkan, menyebarkan prasangka, hingga enggan mendukung keberhasilan orang lain menjadi tantangan serius dalam mewujudkan Indonesia yang maju.
Pesan yang disampaikan Presiden Prabowo hendaknya tidak dipahami sebagai bentuk tudingan kepada masyarakat, tetapi sebagai ajakan untuk melakukan introspeksi. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu membangun budaya saling mendukung, saling menguatkan, dan menghargai setiap prestasi yang dicapai oleh anak bangsanya,ujar Dr. Iswadi dalam keterangannya di Jakarta.
Dr. Iswadi menjelaskan bahwa dalam ilmu sosial, keberhasilan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi dan sumber daya alam, tetapi juga oleh kualitas modal sosial (social capital). Kepercayaan, solidaritas, kolaborasi, serta semangat gotong royong merupakan fondasi penting dalam mempercepat pembangunan nasional. Sebaliknya, budaya iri, dengki, dan saling menjatuhkan justru akan memperlambat kemajuan bangsa.
Ia menilai, di tengah persaingan global yang semakin kompetitif, Indonesia membutuhkan masyarakat yang memiliki mental kolaboratif. Setiap individu harus mampu melihat keberhasilan orang lain sebagai inspirasi, bukan ancaman. Dengan demikian, akan tercipta iklim yang sehat bagi tumbuhnya inovasi, kreativitas, serta lahirnya generasi unggul yang mampu bersaing di tingkat internasional.
Kalau kita terus sibuk menarik orang lain ke bawah, maka yang rugi bukan hanya individu, tetapi bangsa secara keseluruhan. Negara.negara maju justru berkembang karena masyarakatnya memiliki budaya saling mendukung, menghargai prestasi, dan membuka ruang kolaborasi,jelasnya.
Lebih lanjut, Dr. Iswadi menegaskan bahwa kritik Presiden Prabowo seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan karakter di seluruh lapisan masyarakat. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan sumber daya manusia yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus membentuk pribadi yang memiliki integritas, empati, serta kemampuan bekerja sama.
Ia juga menyoroti pentingnya peran media sosial dalam membangun budaya yang positif. Menurutnya, ruang digital saat ini sering kali menjadi arena saling menyerang, menyebarkan ujaran kebencian, hingga menjatuhkan reputasi seseorang tanpa dasar yang jelas. Kondisi tersebut perlu diimbangi dengan literasi digital yang lebih kuat agar masyarakat mampu menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk berbagi inspirasi, pengetahuan, dan semangat kolaborasi, bukan menjadi tempat untuk memperkuat budaya saling menjatuhkan. Karena itu, literasi digital harus terus diperkuat agar masyarakat lebih dewasa dalam bermedia, katanya.
Dr. Iswadi juga mengajak seluruh elemen bangsa, mulai dari pemerintah, akademisi, tokoh masyarakat, pelaku usaha, hingga generasi muda untuk bersama.sama membangun budaya apresiasi. Menurutnya, keberhasilan seseorang merupakan aset bangsa yang patut didukung karena pada akhirnya akan memberikan manfaat yang lebih luas bagi pembangunan nasional.
Ia menambahkan bahwa semangat gotong royong yang menjadi identitas bangsa Indonesia sesungguhnya merupakan modal besar untuk menghapus budaya bangsa kepiting. Nilai nilai tersebut perlu terus dihidupkan melalui kebijakan publik, pendidikan, maupun keteladanan para pemimpin di semua tingkatan.
Indonesia memiliki warisan budaya gotong royong yang sangat kuat. Jangan sampai nilai luhur tersebut terkikis oleh budaya individualisme, iri hati, dan saling menjatuhkan. Justru inilah saatnya kita mengembalikan semangat kebersamaan sebagai kekuatan utama bangsa, tegasnya.
Di akhir keterangannya, Dr. Iswadi berharap pernyataan Presiden Prabowo dapat menjadi pemantik diskusi yang konstruktif mengenai pentingnya perubahan pola pikir masyarakat dalam menghadapi tantangan pembangunan nasional. Ia optimistis Indonesia akan mampu menjadi bangsa yang lebih maju apabila seluruh elemen masyarakat bersedia membangun budaya saling menghargai, saling mendukung, dan bekerja sama demi kepentingan bersama.
Sudah saatnya kita meninggalkan budaya yang menghambat kemajuan dan menggantinya dengan budaya kolaborasi. Ketika masyarakat saling menguatkan, maka Indonesia akan memiliki fondasi sosial yang kokoh untuk mewujudkan cita cita sebagai negara maju, berdaya saing, dan disegani di tingkat global, tutup Dr. Iswadi.##






