
Mabestvnews, Jakarta : Pengamat kebijakan publik dan akademisi, Dr. Iswadi, menilai bahwa wacana Reformasi Jilid II yang belakangan kembali mengemuka dalam ruang publik lebih banyak bersifat naratif dan politis dibandingkan sebagai gerakan sosial yang memiliki fondasi kuat di masyarakat. Menurutnya, kondisi politik nasional saat ini menunjukkan arah yang berbeda dari asumsi sebagian kalangan yang memprediksi akan terjadi gelombang perubahan politik besar dalam waktu dekat.
Dalam keterangannya kepada media, Dr. Iswadi menyebut bahwa berbagai isu yang dibingkai sebagai tanda-tanda lahirnya Reformasi Jilid II belum memiliki daya dorong yang cukup untuk berkembang menjadi gerakan nasional yang mampu mengubah konfigurasi politik Indonesia secara signifikan.
Jika kita melihat realitas politik hari ini, narasi Reformasi Jilid II lebih banyak hidup di media sosial dan diskursus elite tertentu. Namun di tingkat masyarakat luas, belum terlihat adanya konsolidasi gerakan yang kuat, terorganisasi, dan memiliki agenda politik yang jelas sebagaimana yang terjadi pada Reformasi 1998, ujar Dr. Iswadi.
Menurutnya, masyarakat Indonesia saat ini cenderung lebih fokus pada isu isu kesejahteraan, stabilitas ekonomi, penciptaan lapangan kerja, serta keberlanjutan pembangunan nasional. Kondisi tersebut membuat ruang bagi munculnya gerakan reformasi besar relatif terbatas.
Dr. Iswadi menjelaskan bahwa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto hingga saat ini masih memperoleh tingkat kepercayaan publik yang cukup tinggi. Berbagai program strategis pemerintah dinilai mampu menjaga optimisme masyarakat terhadap arah pembangunan nasional.
Selama pemerintah mampu menjaga stabilitas ekonomi, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan menghadirkan pelayanan publik yang semakin baik, maka peluang munculnya gelombang reformasi besar akan semakin kecil. Masyarakat pada dasarnya menginginkan kepastian dan keberlanjutan pembangunan, katanya.
Lebih lanjut, Dr. Iswadi memprediksi bahwa Presiden Prabowo memiliki peluang besar untuk memimpin Indonesia selama dua periode. Prediksi tersebut didasarkan pada sejumlah indikator politik yang menurutnya menunjukkan tren positif bagi pemerintahan saat ini.
Ia menilai bahwa kepemimpinan Prabowo berhasil membangun komunikasi politik yang relatif efektif dengan berbagai kekuatan politik nasional. Selain itu, dukungan dari koalisi pemerintahan yang solid menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas politik dalam jangka panjang.
Dalam politik modern, stabilitas koalisi merupakan faktor yang sangat menentukan. Saat ini kita melihat dukungan politik terhadap Presiden Prabowo masih cukup kuat. Belum terlihat adanya figur alternatif yang memiliki tingkat elektabilitas dan daya dukung politik yang mampu menandingi posisi beliau secara signifikan, jelasnya.
Dr. Iswadi juga menyoroti pentingnya kesinambungan program pembangunan nasional yang telah berjalan. Menurutnya, publik cenderung memberikan dukungan kepada pemimpin yang mampu menunjukkan hasil kerja nyata dibandingkan sekadar menawarkan perubahan tanpa arah yang jelas.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan pemerintah dalam menjaga pertumbuhan ekonomi, memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan investasi, serta melanjutkan pembangunan infrastruktur akan menjadi faktor utama yang menentukan tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan Prabowo.
Politik hari ini semakin rasional. Masyarakat akan menilai berdasarkan kinerja dan manfaat yang mereka rasakan secara langsung. Jika berbagai program prioritas pemerintah dapat berjalan efektif dan memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat, maka peluang untuk mendapatkan dukungan pada periode berikutnya akan semakin besar, ungkapnya.
Terkait munculnya berbagai kritik terhadap pemerintah, Dr. Iswadi menegaskan bahwa kritik merupakan bagian penting dari sistem demokrasi. Namun demikian, ia mengingatkan agar kritik yang disampaikan tetap bersifat konstruktif dan berorientasi pada perbaikan tata kelola pemerintahan.
Demokrasi membutuhkan kritik dan kontrol publik. Akan tetapi, kritik yang produktif adalah kritik yang menawarkan solusi dan alternatif kebijakan. Jangan sampai kritik hanya menjadi alat mobilisasi politik yang tidak memberikan manfaat bagi masyarakat, katanya.
Menurut Dr. Iswadi, Indonesia saat ini membutuhkan suasana politik yang kondusif agar berbagai agenda pembangunan dapat berjalan secara optimal. Ia menilai bahwa tantangan global yang semakin kompleks menuntut seluruh elemen bangsa untuk memperkuat persatuan dan kolaborasi.
Kita menghadapi berbagai tantangan mulai dari ketidakpastian ekonomi global, perubahan geopolitik, hingga transformasi teknologi yang berlangsung sangat cepat. Dalam situasi seperti ini, stabilitas politik menjadi modal penting bagi kemajuan bangsa, ujarnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh komponen masyarakat untuk lebih mengedepankan dialog, partisipasi, dan penguatan institusi demokrasi daripada membangun narasi yang berpotensi menciptakan polarisasi di tengah masyarakat.
Menutup pernyataannya, Dr. Iswadi kembali menegaskan bahwa narasi Reformasi Jilid II saat ini masih jauh dari realitas politik yang berkembang di Indonesia. Sebaliknya, ia melihat peluang Presiden Prabowo untuk melanjutkan kepemimpinannya selama dua periode justru lebih besar apabila pemerintah mampu mempertahankan stabilitas nasional serta menghadirkan hasil pembangunan yang dirasakan secara luas oleh masyarakat.
Dinamika politik tentu selalu terbuka dan dapat berubah sewaktu waktu. Namun berdasarkan perkembangan yang ada saat ini, saya melihat narasi Reformasi Jilid II masih lebih banyak menjadi wacana. Sementara itu, peluang Presiden Prabowo untuk memimpin Indonesia selama dua periode tetap sangat terbuka, selama pemerintah mampu menjaga kepercayaan publik dan menunjukkan kinerja yang konsisten, pungkas Dr. Iswadi.##






