
Mabestvnews, Jakarta : Dr. Iswadi, akademisi dan pemerhati pendidikan yang aktif menyampaikan gagasan kritis dalam pengembangan kebijakan pendidikan di Indonesia, mendorong pemerintah agar kembali menerapkan mata pelajaran muatan lokal di sekolah sekolah di Aceh. Ia menilai kebijakan pengurangan bahkan penghapusan muatan lokal di sejumlah satuan pendidikan perlu dievaluasi kembali, karena dinilai berdampak pada pembentukan karakter, penguatan nilai keagamaan, serta pelestarian budaya daerah di tengah derasnya arus globalisasi.
Menurut Dr. Iswadi, muatan lokal bukan sekadar tambahan dalam kurikulum, melainkan bagian penting dalam pembentukan identitas peserta didik yang selaras dengan nilai sosial, budaya, dan religius masyarakat Aceh. Adapun mata pelajaran yang diusulkan untuk dihidupkan kembali meliputi Pendidikan Akhlak, Al-Qur’an dan Hadits, Sejarah Islam, Arab-Melayu, serta Bahasa Aceh.
Ia menegaskan bahwa keberadaan mata pelajaran tersebut memiliki peran strategis dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki fondasi moral dan spiritual yang kuat.
Pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada aspek kognitif dan kompetensi global semata. Di Aceh, pendidikan juga harus mampu menjaga nilai-nilai akhlak, keislaman, dan budaya lokal yang telah diwariskan oleh para leluhur kita, ujar Dr. Iswadi.
Lebih lanjut, ia menyoroti kekhususan Aceh dalam penerapan syariat Islam dalam kerangka otonomi daerah. Menurutnya, hal tersebut menjadi alasan yang relevan untuk memperkuat kembali materi pendidikan bernuansa keislaman dan kebudayaan lokal di sekolah formal, mulai dari jenjang SD hingga SMA atau sederajat.
Dr. Iswadi juga menekankan pentingnya Pendidikan Akhlak sebagai fondasi utama pembentukan karakter peserta didik, terutama di tengah tantangan moral generasi muda yang semakin kompleks. Selain itu, mata pelajaran Al-Qur’an dan Hadits serta Sejarah Islam dinilai penting untuk memperkuat pemahaman keagamaan sekaligus menanamkan kesadaran historis tentang peradaban Islam dalam identitas masyarakat Aceh.
Sementara itu, Arab-Melayu dipandang sebagai jembatan penting untuk memahami khazanah literatur Islam klasik yang pernah berkembang di Nusantara. Dengan demikian, generasi muda diharapkan dapat kembali mengenal warisan intelektual yang mulai terlupakan.
Perhatian khusus juga diberikan pada Bahasa Aceh yang menurutnya mengalami penurunan penggunaan di kalangan generasi muda, terutama di wilayah perkotaan. Ia menilai bahasa daerah bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga identitas budaya yang mengandung nilai-nilai kearifan lokal dan sejarah masyarakat Aceh.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa penggunaan Bahasa Aceh semakin menurun, bahkan dalam lingkungan keluarga sendiri, ungkapnya.
Ia menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius, karena jika tidak segera diupayakan pelestariannya, Bahasa Aceh dikhawatirkan akan semakin tergerus zaman. Oleh karena itu, sekolah dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah melalui integrasi dalam kurikulum muatan lokal.
Lebih jauh, Dr. Iswadi mengajak pemerintah daerah, dinas pendidikan, tokoh agama, tokoh adat, serta seluruh pemangku kepentingan untuk bersama sama merumuskan kebijakan pendidikan yang lebih berpihak pada pelestarian nilai nilai lokal.
Ini bukan semata mata soal kurikulum, tetapi soal masa depan identitas kita sebagai masyarakat Aceh. Pendidikan harus menjadi alat untuk memperkuat jati diri, bukan justru membuat kita tercerabut dari akar budaya sendiri, tegasnya.
Ia berharap pemerintah dapat meninjau kembali kebijakan penghapusan sebagian mata pelajaran muatan lokal, serta mempertimbangkan kembali penguatan kurikulum berbasis kearifan lokal yang tetap sejalan dengan sistem pendidikan nasional.
Sebagai penutup, Dr. Iswadi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga dan melestarikan nilai budaya serta bahasa daerah sebagai warisan yang tidak ternilai.
Jika bukan kita yang menjaga, lalu siapa lagi? Dan jika tidak sekarang, kapan lagi? pungkasnya.##







